Minggu, 18 Mei 2008

Menyiasati Anak Sulit Makan

Kategori Anak
Oleh : Martina Rini S. Tasmin, SPsi
Jakarta, 3/8/2002

Ibu: "A lagi ya, satu lagi aaanya, yah satu lagi yah"

Anak: "Nggak mau, udah kenyang"

Ibu: "Satu lagi deh, abis itu udahan deh makannya. Tinggal sedikit nih, tuh lihat di piringnya, tinggal sedikit kan. Satu lagi yaaaaa"

Anak: "Nggak mau ah, udah kenyaaaaang"

Bagi sebagian ibu, dialog di atas mungkin terdengar sangat familiar di telinga ketika jam makan anak-anak telah tiba. Memberi makan kepada anak-anak balita terkadang memang menyulitkan. Anak tidak selalu menyukai apa yang diberikan kepada mereka. Mereka cenderung lebih menyukai makanan ringan berupa makanan yang manis (seperti permen, biskuit), makanan junk food (biasanya dalam bentuk makan siap saji seperti hamburger, fried chicken, french fries), dan makanan yang tasty (misalnya chiky, cheetos) dibandingkan makanan utama yang berupa nasi dan lauk pauknya.

Menghadapi situasi diatas orangtua biasanya menggunakan berbagai cara untuk membuat agar anaknya mau makan, bahkan seringkali sampai merasa perlu untuk memaksa anak, apalagi orangtua dari anak-anak yang bertubuh mungil. Orangtua mungkin beranggapan bahwa tubuh mungilnya itu terbentuk karena anaknya kurang makan dan gizi. Nah, gimana caranya menyiasati agar anak mau makan makanan yang disediakan oleh orangtua?

Komponen Utama Sumber Energi

Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.

Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).

Bagaimana dengan makanan siap saji atau junk food? Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.

Mengapa Anak Menolak Makan?

Papalia (1995), salah seorang ahli perkembangan manusia, mengungkapkan bahwa pada usia 0-3 tahun perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Setelah usia 3 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dari orangtua agar anak jangan sampai kekurangan gizi akibat tidak mau makan.

Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan:

  • Memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar
  • Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua
  • Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut
  • Menu tidak bervariasi sehingga anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang atau bentuk makanan tidak menarik
  • Anak sedang merasa tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman
  • Anak sedang sakit

Sementara itu, bentuk penolakan yang dilakukan anak dapat berupa:

  • Memuntahkan makanan
  • Makan berlama-lama dan memainkan makanan. Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua.
  • Sama sekali tidak mau makan
  • Menumpahkan makanan
  • Menepis suapan dari orangtua

Tindakan Keliru yang Seringkali Dilakukan Orangtua

Beberapa tindakan yang sebenarnya keliru yang seringkali dilakukan orangtua dalam menghadapi situasi diatas misalnya:

  • Membujuk. Misalnya dengan kata-kata: "makan sayur bayamnya ya, biar kuat seperti popeye", "kalau makannya habis nanti mama bilang sama papa kalau anak mama dan papa pintar loh", dll.
  • Mengalihkan perhatian, misalnya: anak disuapi makan sambil menonton film atau sambil bermain-main.
  • Memberi janji, misalnya: "kalau makannya habis, nanti mama belikan ice cream".
  • Mengancam, misalnya: "kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh".
  • Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan.
  • Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar.
  • Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai menu yang dihidangkan.

Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua

Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.

Lalu apa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk membuat anak mau makan dan tidak kekurangan sumber energi yang dibutuhkan tubuhnya? Berikut ini beberapa saran yang dapat anda lakukan jika menghadapi anak yang sulit makan:

  1. Kurangi kudapan atau tidak memberikan kudapan sama sekali di antara jam makan. Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak yang memiliki nafsu makan sangat baik, pemberian kudapan maupun susu diantara jam makan masih diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal tetap dan dosistepat sehingga tidak terjadi obesitas.
  2. Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.
  3. Mempercantik tampilan makanan. Contohnya, dalam sebuah iklan di TV, ada orangtua yang menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.
  4. Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa "anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru".
  5. Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.
  6. Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.
  7. Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginanya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
  8. Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.
  9. Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.
  10. Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut). Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat. Tulisan ini mungkin dapat menjadi suatu informasi yang berguna bagi anda para orangtua yang peduli terhadap kesejahteraan anaknya. Selamat mencoba.
Sumber : http://www.e-psikologi.com/epsi/anak.asp

Kamis, 15 Mei 2008

Di Taman Ismail Marzuki : Pak Sawali Luncurkan Kumpulan Cerpen

Hari ini Jum'at, 16 Mei 2008 jam 13.30 - 18.00 di Taman Ismail Marzuki (TIM) akan dilakukan Diskusi Buku dan Peluncuran Kumpulan Cerpen berjudul : Perempuan Bergaun Putih karya pak Sawali Guru SMPN 2 Pegandon. Selengkapnya di:http://sawali.info/2008/05/11/diskusi-buku-dan-peluncuran-kumcer/Segenap Tim Pengembang dan JIP Kendal mengucapkan selamat untuk Pak Sawali. SIAPA MENYUSUL???

Minat Baca Belum Tinggi

Jumat, 16 Mei 2008 11:53 WIB
JAKARTA, JUMAT - Hingga tahun 2007, jumlah buku di Indonesia baru mencapai 12.000. Ini berarti satu buku baru, setidaknya dibaca oleh tujuh orang tiap tahunnya. Ini menunjukkan minat baca di Indonesia belum tinggi.
Ketua Bidang Promosi Buku dan Pengembangan Minat Baca Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta, Hikmat Kurnia, mengatakan data ini diperoleh dari jumlah judul buku yang masuk ke penerbit tiap bulannya. "Bandingkan dengan Jepang yang jumlah bukunya mencapai 290.000 per tahun dan India 80.000 buku per tahun. Bagaimana ini menggugah bisa minat baca di Indonesia? Apalagi dengan harga buku yang relatif mahal," ujarnya di sela-sela aksi dalam Peringatan Hari Buku Nasional di Bunderan HI Jakarta, Jumat (16/5).
Tak ayal, lanjutnya, berdasarkan data UNDP pada 2005, Indonesia menduduki peringkat ke-96 di Asia. Hampir mendekati posisi Laos dan Kamboja, negara yang baru merdeka.Oleh karena itu, IKAPI bersama dengan Perpustakaan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, akan membentuk Bengkel Penulisan Buku. Bengkel ini akan dimulai pada Sabtu (17/5) besok dan diikuti oleh 300 pelajar di Jakarta secara cuma-cuma.
Menurut dia, Bengkel Penulisan Buku merupakan salah satu cara menambah jumlah judul buku di Indonesia. Untuk menindaklanjuti kegiatan ini, IKAPI akan bekerja sama dengan beberapa penerbit, seperti Gagas Media, untuk menerbitkan karya peserta kelas tersebut.(BOB)
Sumber : Kompas, 16 Mei 2008

Senin, 12 Mei 2008

UASBN BAHASA INDONESIA ANEH

Kompas, Senin, 12 Mei 2008 00:15 WIB
Oleh Hanif Nurcholis
Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2007 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional, pada Mei 2008 semua SD/MI di Indonesia akan menyelenggarakan UASBN. Salah satu mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Pada lampiran permendiknas tersebut ditetapkan cakupan standar kompetensi lulusan.
Dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tersebut termuat hal-hal yang akan diujikan, mencakup indikator-indikatornya, materinya, dan bentuk soalnya.
Untuk Bahasa Indonesia, SKL yang akan diujikan hanya aspek membaca dan menulis, sedangkan aspek mendengarkan dan berbicara tidak diujikan. Untuk mengetahui apakah siswa menguasai dua SKL tersebut atau tidak, ia akan diukur dengan alat uji berupa soal obyektif pilihan ganda sebanyak 50 butir dalam waktu 120 menit.
Melihat cakupan SKL yang akan diujikan dan instrumen ujinya, khususnya untuk SKL Menulis, sudah sepatutnya para guru, pakar pendidikan, pemerhati pendidikan, organisasi profesi pendidikan, dan masyarakat luas menolak hasil ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) 2008 Bahasa Indonesia karena dua hal. Pertama, lingkup SKL yang diujikan tidak sesuai dengan SKL nasional. Sesuai dengan Permendiknas No 23/2006 tentang SKL, SKL mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas empat komponen: Mendengarkan, Berbicara, Membaca, dan Menulis. Dengan demikian, dua SKL, Mendengarkan dan Berbicara, tidak diujikan, padahal siswa dilatih dan dibimbing oleh gurunya dalam proses pembelajaran untuk menguasai dua SKL ini.
Kedua, dilihat dari validitas isi, menguji kemampuan menulis dengan instrumen berupa soal pilihan ganda jelas sangat tidak valid.
Dengan hanya menguji SKL Membaca dan Menulis, berarti hasil UASBN yang menjadi penentu kelulusan tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya menguji 50 persen SKL nasional. Akan tetapi, sebenarnya hanya 25 persen sebab instrumen penilaian untuk SKL Menulis juga tidak valid.
Ketidaksahihan alat uji SKL Menulis tersebut terkait dengan keluarnya tiga kurikulum terakhir: Kurikulum 1994, KBK 2004, serta Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 2006. Ketiga kurikulum tersebut sudah tidak mengamanatkan pengajaran kebahasaan/linguistik dan ejaan, tetapi pembelajaran keterampilan berbahasa
sekabjutnya :
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/12/00150114/uasbn.bahasa.indonesia.aneh

Sabtu, 10 Mei 2008

"Perang Gerilya" Si Umar Bakri

Minggu, 11 Mei 2008 | 01:41 WIB

Budi Suwarna dan Ilham Khoiri

Kekisruhan dalam ujian nasional belakangan mungkin mencerminkan sikap bangsa yang kerap hipokrit. Di satu sisi, pemerintah ngotot mematok standar kelulusan sebagai cermin peningkatan mutu pendidikan nasional. Saat bersamaan, standar itu dicapai dengan berbagai trik, tipu muslihat, atau lewat ”perang gerilya” yang melibatkan para guru.

Maya (nama samaran) tertawa sinis setiap kali mendengar pejabat mengklaim ujian nasional (UN) berlangsung sukses dan angka kelulusan tinggi. Soalnya, dia tahu benar, betapa ”sukses” itu diraih bukan melalui proses belajar-mengajar di sekolah, melainkan lewat ”perang gerilya” yang dilakoni para guru.

Guru sebuah SMA swasta di Jakarta itu mengungkapkan, hampir semua sekolah di rayonnya menyiapkan berbagai strategi ”perang gerilya” untuk memberikan contekan kepada siswa. Tahun ini Maya mengaku masuk dalam ”pasukan gerilya” bersama beberapa guru lain.

Lanjutan :

http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01412372/perang.gerilya.si.umar.bakri

Selasa, 06 Mei 2008

Ujian ONLINE

Para siswa tampak tekun menghadapi layar komputer. Tangan mereka lincah memainkan tetikus (mouse). Sedang asyik main game? Tentu tidak.
Yang terlihat di muka adalah dahi yang berkerut pertanda para siswa sedang berpikir keras. Wajar karena memang siswa kelas III Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Majene, Sulawesi Barat, sedang menghadapi ujian akhir sekolah. Namun, berbeda dari sekolah kebanyakan, selama seminggu, sejak Senin (5/5) pagi, siswa kelas III SMK 2 Majene kelompok Bisnis dan Manajemen menjalani ujian akhir sekolah berbasis online.
Di hadapan siswa, tidak ada lembaran kertas yang mesti diisi, atau pensil dan pena untuk mengisi jawaban. Dengan sistem ini, setiap siswa mendapat meja lengkap dengan satu set komputer. Dengan memasukkan password nomor ujian mereka, setiap siswa akan mendapatkan soal pilihan ganda (multiple choice). Satu siswa dengan siswa lain mendapatkan soal yang berbeda urutannya. Lanjutan di:http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/07/01152527/cukup.klik.tanpa.pensil.tanpa.kertas.ujian...

Senin, 05 Mei 2008

SUDAH SEDEMIKIAN BURUKKAH?

Sudah dua minggu yang lalu pelaksanaan ujian nasional SMA/MA/SMK berakhir, saat ini sedang berlangsung ujian nasional untuk SMP/MTs. Secara pribadi saya bersyukur karena pada pelaksanaan ujian yang digelar di tingkat SMA/MA/SMK berjalan lancar. Tentu ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya yang ditugasi sebagai ketua panitia tingkat kabupaten. Beberapa insiden kecil karena ada beberapa nomer soal yang tidak terbaca bisa diatasi atas kerja sama panitia pengawas dan TPI di sekolah, juga anak-anak yang sakit dan kesandung masalah dengan kepolisian dapat terlayani menambah membanggakan hati saya.
Yang mengganjal dihati saya ketika saya baca polling yang sengaja diposting di Jipkendal untuk menilai kejujuran pelaksanaan ujian nasional ternyata hasilnya mengejutkan. 78 % responden mengatakan bahwa pelaksanaan ujian nasional kali ini tidak jujur dan hanya 22 % saja yang mengatakan bahwa ujian nasional ini jujur. Memang kalau dilihat dari jumlah datanya belum representatif tetapi bagi saya ini cukup merisaukan. Sudah demikian burukkah kita ini sehingga kita (para praktisi pendidikan) ternyata tidak bisa memegang amanah lalu mungkinkah kita menghasilkan generasi yang jujur??? Semoga Allah mengampuni!!