Senin, 14 Juli 2008

KRITERIA SEKOLAH BERKWALITAS

Kondisi sosial dan politik Indonesia dalam 10 tahun terakhir pascareformasi digulirkan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Tingkat pengangguran terus meningkat hingga mencapai 42 juta jiwa. Gejolak sosial yang ditandai dengan berbagai kerusuhan masih terjadi. Begitu juga pertumbuhan ekonomi stagnan dan tak memiliki daya saing yang cukup di pasar bebas. Salah satu keberhasilan pembangunan yang mungkin pantas untuk dirayakan oleh rakyat Indonesia adalah berkembangnya kehidupan demokrasi secara terbuka bahkan cenderung melampaui batas-batas demokrasi itu sendiri. A Nation at Risk, mungkin inilah ungkapan kecemasan yang perlu dipikirkan bersama solusinya. Tanda-tanda kebangkrutan suatu negara sebenarnya dapat dengan mudah dideteksi dari kondisi sistem pendidikan nasional yang dijalankannya. Banyak sekali hasil studi yang menyebutkan bahwa jika kondisi ekonomi sebuah negara memburuk, itu pasti berkorelasi positif terhadap kondisi sekolah. Sebaliknya, jika stabilitas ekonomi mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat, dapat dipastikan bahwa sistem pendidikan negara tersebut berfungsi dengan baik. Dengan demikian kualitas sekolah memiliki pengaruh yang jelas terhadap kemampuan daya beli masyarakat, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Para ahli ekonomi telah memberi perhatian sangat serius kepada efek human capital terhadap berbagai hasil ekonomi. Investasi di bidang keterampilan yang diselenggarakan melalui pendidikan akan selalu relevan dengan pasar tenaga kerja jika sistem pendidikan suatu negara memiliki ketersambungan dengan pasar dan dunia industri. Artinya, investasi sumber daya manusia melalui pendidikan merupakan tolok ukur sederhana untuk melihat sejauh mana relevansi sekolah dan dunia usaha bersinergi, sekaligus untuk mengukur sejauh mana sebuah sekolah itu memiliki ciri dan kriteria berkualitas. Seperti telah sering kita baca dalam beberapa artikel di rubrik pendidikan ini dalam dua bulan terakhir, kondisi pendidikan atau situasi persekolahan saat ini mengalami banyak sekali tekanan dari berbagai pihak, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, sekolah belum memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang menjadi kelemahan mendasar seperti efektivitas manajemen dan relasi sekolah-masyarakat. Sedangkan secara eksternal, meskipun telah memiliki Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam praktiknya masih terdapat kesalahan mendasar dalam menafsir masalah otonomi pendidikan, sistem pengujian hingga kebijakan pengembangan kurikulum yang selalu membuat pelaksana pendidikan bertambah bingung. Padahal menurut penelitian Elmore dan Fuhrman (2001), sebuah proses pendidikan akan baik dan berkualitas jika masalah yang berkaitan dengan tanggung jawab internal sekolah mendapatkan prioritas terlebih dahulu untuk diselesaikan. Lima kriteria sekolah berkualitas Dalam dunia industri pada abad ke-19, sistem pendidikan yang dirancang dalam satu ukuran untuk semua (one-size-fits-all) cukup membantu mengurangi pelecehan terhadap tenaga kerja anak dan membawa kesempatan bagi dunia luas. Pada tahun 1950-an, banyak orang mampu mendapatkan pekerjaan layak dengan kemampuan yang terbatas. Tapi keadaan berubah dengan dramatis. Pekerjaan menuntut latar belakang pendidikan yang tinggi. Dalam waktu yang bersamaan, sekolah dituntut untuk mengikuti perkembangan semacam itu dan juga perubahan-perubahan yang terjadi seperti perubahan dalam struktur keluarga, perubahan tren dalam kebudayaan populer dan pertelevisian, konsumerisme, kemiskinan, kekerasan, pelecehan anak, kehamilan pada masa remaja, dan perubahan sosial yang terus-menerus. Di lain pihak, sekolah juga mengalami tekanan terus-menerus untuk menekan laju perubahan, untuk lebih konservatif, untuk tetap menjalankan kebiasaan-kebiasaan tradisional, dan tidak meninggalkannya. Belakangan ini, sejalan dengan makin besarnya tantangan yang harus dihadapi lembaga pendidikan, muncul sejumlah usaha untuk memperbarui konsep atau gagasan tentang apa yang disebut sebagai sekolah berkualitas. Salah satu konsep terkemuka dalam hal ini adalah lima prinsip pendidikan yang ditawarkan Peter Senge dalam The School That’s Learn (2003). Dirumuskan dalam rangka mengimbangi arus globalisasi yang meluas di bidang pendidikan, lima prinsip pendidikan ini menekankan pentingnya melihat sekolah dan atau proses pembelajaran sebagai suatu institusi pendidikan semacam perusahaan yang memerlukan kerja kelompok dan menuntut keahlian tertentu. Seperti kita ketahui bersama, ada beberapa keahlian yang dapat dimiliki seseorang dalam mengelola pendidikan seperti, bertindak dengan otonomi yang lebih luas, berani mengambil kesimpulan, memimpin juga dipimpin, mempertanyakan masalah yang sulit dengan sikap yang baik, dan menerima kekalahan sehingga mampu membangun kemampuan untuk keberhasilan di masa mendatang. Semua itu adalah sikap yang dibutuhkan dalam organisasi pembelajaran dan masyarakat. Kemampuan menyinergikan lima prinsip disiplin kolektif menurut Peter Senge ini dimaksudkan untuk meraih keahlian-keahlian yang akan dapat membantu setiap sekolah di Indonesia menghadapi tekanan dan dilema dalam mengelola pendidikannya. Secara ringkas kelima disiplin kolektif tersebut sebagai berikut. Pertama, penguasaan diri (personal mastery), merupakan praktik mengartikulasikan gambaran koheren dari pandangan para pribadi yang terlibat dalam setiap sekolah, hasil yang paling ingin kita dapatkan dalam hidup, di samping pengamatan nyata dari kehidupan sehari-hari. Ketika terakumulasi, ini bisa menghasilkan keinginan alami yang dapat meningkatkan kapasitas dalam membuat pilihan-pilihan yang lebih baik dan menerima hasil lebih dari yang dipilih secara berkelompok. Setiap pengelola sekolah harus berlaku jujur dalam mengemukakan kelemahan dan kelebihan situasi terkini sekolahnya dan mendukung setiap aspirasi yang tumbuh dan berkembang dari anak didik. Kedua, keberanian setiap pengelola sekolah untuk berbagi pandangan (shared vision), sebuah disiplin kolektif yang menekankan perhatian pada tujuan bersama. Sekelompok orang dengan tujuan yang sama dapat belajar untuk mempertahankan komitmen dalam suatu kelompok atau organisasi dengan mengembangkan pandangan yang sama tentang masa depan yang ingin dicapai, prinsip-prinsip serta guiding practices yang mereka ciptakan bersama. Disiplin kolektif ketiga yang menjadi perhatian Peter Senge adalah pembentukan mental (mental models), sebuah disiplin yang ingin menekankan sikap pengembangan kepekaan dan persepsi, baik dalam diri sendiri atau orang sekitarnya. Bekerja dengan membentuk mental ini dapat membantu kita untuk lebih jelas dan jujur dalam memandang kenyataan terkini. Karena pembentukan mental dalam pendidikan sering kali tidak dapat didiskusikan, dan tersembunyi, maka kritik yang harus diperhatikan oleh sekolah yang belajar adalah bagaimana kita mampu mengembangkan kapasitas untuk berbicara secara produktif dan aman tentang hal-hal yang berbahaya dan tidak nyaman. Selain itu, pengelola sekolah juga harus senantiasa aktif memikirkan asumsi-asumsi tentang apa yang terjadi dalam kelas, tingkat perkembangan siswa, dan lingkungan rumah siswa. Keempat, bentuklah kelompok belajar (team learning), sebuah disiplin dalam interaksi kelompok. Melalui teknik-teknik seperti dialog dan skillful discussion, sekelompok kecil orang dapat mentransformasikan pikiran kolektif mereka, belajar memobilisasi energi dan kegiatan mereka untuk mencapai tujuan bersama dan mengembangkan kepandaian dan kemampuan mereka lebih besar ketimbang jika bakat anggota kelompok digabungkan. Kelompok belajar dapat dikembangkan dalam kelas, antara guru dan orang tua murid, antaranggota komunitas, dan dalam kelompok utama yang mengejar perubahan sukses dalam sekolah. Adapun yang terakhir adalah disiplin kolektif tentang sistem berpikir (systems thinking). Dalam disiplin ini kita belajar memahami ketergantungan dan perubahan, sehingga kita dapat menghadapi dengan lebih aktif tekanan yang membentuk konsekuensi dari sebuah tindakan. Peralatan dan teknik yang digunakan dalam melatih sistem berpikir ini seperti diagram stock and flow, dan berbagai simulasi yang membantu siswa untuk memahami lebih dalam dari apa yang dipelajari. Dengan dasar kelima disiplin kolektif di atas, setiap sekolah berkesempatan melakukan sebuah 'uji-coba' terapan terhadap lima prinsip dasar di atas bagi sebuah pengembangan institusi pendidikan (sekolah) yang mengutamakan pengembangan dan penjaminan mutu (quality assurance). Oleh Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta (sumber : Media Indonesia)

Sabtu, 07 Juni 2008

MENAKAR KOMITMEN MUTU SEKOLAH

Kalau anda kebetulan datang di suatu sekolah atau bertemu kepala sekolah untuk mencarikan sekolah anak maka anda perlu menyimak tulisan ini. Mengapa ini penting karena kalau anda salah memilihkan sekolah anak anda maka itu artinya tidak saja anda harus siap kecewa terhadap layanan sekolah tetapi berarti anda juga telah mempertaruhkan masa depan anak anda di jalan yang salah.
Meskipun saat ini ada pengelompokan sekolah : ada sekolah standar, ada sekolah kategori mandiri, ada sekolah berstandar nasional

Jumat, 30 Mei 2008

Pemberdayaan Sekolah Swasta Untuk Mensukseskan Wajib Belajar 12 Tahun

Wajib belajar 12 Tahun? Apa tidak terlalu ambisius? Lalu bagaimana pembiayannya? Butuh dana berapa? Ini adalah sederetan pertanyaan yang rasional dan wajar. Karena sebagus apapun sebuah program tentu harus tetap berpijak pada kenyataan : kemampuan finansial, ketersediaan sumber daya dan fisibilitas program itu.
Kita ketahui bersama bahwa pada tahun ini secara statistik Kabupaten Kendal telah mencapai tuntas paripurna dengan APK mencapai 101, 55. Pengakuan pemerintahpun sudah kita peroleh dengan diterimanya penghargaan Widya Krama oleh Wakil Bupati Kendal pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional di Surabaya pertengahan bulan ini. Meskipun harus kita sadari bahwa menurut data BKKBN di kabupaten Kendal masih terdapat 9010 anak usia 7-15 tahun yang belum atau tidak bersekolah. Langkah-langkah konkrit untuk ''menyekolahkan" 9010 anak usia 7 -15 telah dilakukan secara terintegrasi oleh Tim Koordinasi Wajar Dikdas dan Forum PUS Kab.Kendal sehingga pada hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran 2008/2009 tanggal 15 Juli nanti kita bisa berteriak horee karena benar-benar telah berhasil menjaring seluruh anak usia dikdas masuk ke sekolah.
Kenyataan ini barangkali yang mendasari ide perlunya program WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN 12 TAHUN.
Kendala
Tentunya program ini bukan tanpa kendala. Dengan jumlah penduduk usia 16-18 tahun yang lebih dari 50.000 diperlukan lembaga pendidikan yang cukup banyak. Jika asumsi satu sekolah dapat menampung 1000 siswa maka diperlukan 50 sekolah. Meskipun saat ini di Kabupaten Kendal telah memiliki 24 SMK, 30 SMA dan 11 MA namun demikian dari 64 sekolah tersebut yang memiliki jumlah murid 1000 hanya 6 sekolah, selebihnya masih dibawah seribu siswa bahkan banyak yang muridnya kurang dari 300 siswa terutama di sekolah swasta.
Kurangnya murid pada sekolah swasta disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : kurangnya fasilitas baik ruang kelas, laboratorium, perpustakaan maupun tempat praktik untuk SMK. Kekurangan fasilitas ini berdampak pada mutu lulusan yang kemudian secara berantai berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat.
Jika sekolah swasta dicukupi fasilitasnya maka dapat dipastikan mutu lulusannya akan meningkat dan itu akan berdampak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat. Saat ini asumsi bahwa bersekolah di sekolah negeri lebih murah dibandingkan dengan swasta sebenarnya telah dipatahkan oleh bukti-bukti nyata yang bisa terbaca oleh masyarakat. Sekolah negeri ternyata tidak lebih murah dibanding sekolah swasta. Sehingga saat ini keengganan masyarakat menyekolahkan ke swasta bukan karena alasan biaya tetapi karena masalah kwalitas dan sarana. Jika sekolah swasta memiliki sarana yang memadai maka kepercayaan masyarakat akan meningkat.
Pemenuhan sarana pada sekolah swasta merupakan peluang yang baik untuk mensukseskan program wajib belajar 12 tahun. Yang menjadi permasalahan adalah siapa yang harus memenuhi fasilitas itu? Orang tua murid? atau Yayasan penyelengara pendidikan itu atau pemerintah daerah?
Jika orientasi kita pada tujuan untuk mensukseskan program wajib belajar 12 tahun, maka sebenarnya inmtervensi pemerintah dan pemerintah daerah terhadap sekolah swasta untuk memenuhi sarana pendidikan menjadi pilihan yang murah. Dikatakan murah karena dibandingkan dengan mendirikan Unit sekolah Baru negeri biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah/pemerintah daerah menjadi lebih sedikit. Sebagai perbandingan jika pemerintah daerah akan mendirikan sebuah unit sekolah baru paling tidak harus menyiapkan lahan/ membeli tanah, membangun gedung dan sarana pendidikkan lainnya, menganngkat guru dan kepala sekolah, menyediakan dana operasional rutin. Maka dana yang diserap untuk sebuah unit sekolah baru hanya untuk membangun fisiknya saja diperlukan dana minimal 2 milliard. Belum lagi gaji guru dan biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap bulan.
Jika alternatif yang dipilih adalah membantu sekolah swasta dengan memberikan subsidi baik itu dalam bentuk blockgrant maupun imbal swadaya untuk memenuhi kekurangan fasilitas maka dana yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya sekali. Dengan demikian maka paling tidak pemerintah sudah akan dapat menghemat biaya untuk gaji guru dan operasional rutin.
untuk mengendalikan mutu sekolah yang mendapatkan bantuan maka dibuat perjanjian tertentu yang mengikat sekolah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai konsekwensi dari bantuan yang diberikan. Jika irtu berhasil dilaksanakan maka pemerintah bisa memberikan reward tertentu untuk lebih memajukan sekolah sementara bagi lembaga yang kurang konsekwen terhadap janji kenerjanya diberikan punishment yang mendidik dan memotivasi sekolah-sekolah swasta untuk memperbaiki kinerjanya.
Dengan cara demikian maka wajib belajar 12 tahun dapat dilaksanakan dengan biaya yang relatif murah.

Rabu, 28 Mei 2008

Otak Bekerja Baik Kalau Manusia Senang

Rabu, 28 Mei 2008 18:38 WIB
YOGYAKARTA, RABU - Otak akan bekerja dengan baik ketika manusia merasa senang dan tidak tertekan. Proses itu dimulai pada usia dini, dan berlanjut ke masa anak-anak hingga remaja. Hanya saja, pada usia tersebut, suasana senang dengan bermain sangat kurang porsinya.
Hal itu dikatakan Shifu Yonathan Purnomo, pakar kecerdasan otak yang juga pencipta dan pendiri Shuang Guan Qi Xia International (perguruan kecerdasan otak yang berpusat di Surabaya), Rabu (28/5), dalam Seminar Intrapreneurship di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
"Anak yang sejak di SD hingga SMA dianggap pandai, belum tentu nanti dia cerdas. Itu karena kondisi sekitar membuat otaknya tidak bekerja dengan baik dan maksimal. Ada tahap yang ingin dilompati, biasanya oleh orang tua mereka," ujar Shifu.
Seorang anak, di masa sekarang, sudah dijejalkan materi pelajaran sejak TK. Bahkan di playgroup, pengenalan tentang huruf-huruf sudah diajarkan. Itu sebenarnya tidak perlu dan belum saatnya. Yang terbaik, anak dibiarkan saja bermain dan bergerak.
"Biarkan saja anak lari-lari. Kalau nggak mau belajar karena lagi malas, ya biarkan saja. Kenalkan dengan olah raga dan hal yang membuat dia banyak bergerak, bukan hanya duduk sambil bermain atau lari-lari bermain di dalam ruang kelas. Dengan banyak bergerak, zat milin sebagai nutrisi otak akan dibuat tubuh," katanya.
Sumber : Kompas

Fakta Soal Otak Anak Anda

Senin, 21 April 2008 19:13 WIB
OTAK merupakan organ vital yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).

Karena itu, sejak anak lahir hingga mulai bisa mengenal beragam hal di lingkungannya, otak anak harus segera dirangsang. Caranya, kenalkan anak pada banyak hal di lingkungan sekitar kita entah itu binatang, tumbuhan, beragam benda lain serta bilangan dan bahasa yang sederhana.

Berikut fakta atas otak anak yang perlu kita ketahui :1. Para ilmuwan menyatakan bahwa 50 % kemampuan otak anak-anak terbentuk dalam 6 tahun pertamanya.
2. Lingkungan memberi efek dramatis pada perkembangan otak balita.
3. Aktivitas dalam otak menciptakan arus kecil listrik yang disebut sinapsis dan jumlah rangsangan yang diterima bayi Anda mendapatkan efek langsung bagaimana sinapsis itu terbentuk.
4. Rangsangan berulang-ulang menguatkan jalinan tersebut dan menjadikannya permanen, sedangkan arus listrik baru yang terpakai akhirnya akan mati.
5. Bayi memiliki kebutuhan biologik dan semangat untuk belajar.
6. Jaringan dasar pada sinapsis otak hampir lengkap setelah perkembangan otak yang begitu cepat dalam 3 tahun pertama bayi.
7. Makin banyak rangsangan yang dapat diberikan kepada bayi menandakan lebih banyak sirkuit yang dibentuk untuk meningkatkan kemampuan belajarnya di masa depan.
8. Rangsangan visual bisa meningkatkan perkembangan otak termasuk meningkatkan keingintahuan, perhatian dan konsentrasi.
9. Mainan terbaik bayi adalah Anda! Berinteraksilah bersama bayi sesering mungkin.
10. Jika Anda memuji bayi Anda dan selau memberinya semangat, bayi Anda akan terpacu untuk belajar dan cenderung lebih cepat memahami.

Karena itu, jika kedua sisi otak kanan maupun kiri dirangsang dengan tepat, anak-anak pun bisa mengembangkan kemampuan jeniusnya dengan normal tanpa kesulitan.
Sumber : Kompas

Senin, 19 Mei 2008

Bisakah Kita Mengulang Kebangkitan Nasional?

Pertanyaannya lucu, dan sederhana. Tapi jika dipikir lebih dalam untuk menjawab pertanyaan itu bukan soal yang mudah. Bayangkan, jika harus dijawab dengan jawaban positif :bisa, maka konsekwensinya sangat besar. Bukan pesimis tetapi melihat realita yang ada masih bisakah kita mengulang kebangkitan nasional 1908 itu?
Ketika dr. Wahidin dkk menggagas berdirinya budi utomo sebagai sebagai sebuah organisasi pergerakan motivasinya bukan karena menginginkan popularitas, apalagi keuntungan pribadi. Semuanya dilakukan atas dasar keichlasan perjuangan untuk membawa perubahan bagi bangsanya. Sehingga dengan semua keterbatasan yang ada pada waktu itu rintangan dan tantangan bukan menjadi penghalang tetapi malah menjadi penambah energi dinamika perjuangan.
Dalam konteks saat ini, berbagai permasalahan yang ada justru timbul bukan karena fakto luar. Permasalahan yang timbul seperti kemiskinan, kebodohan, banyaknya pengangguran, kwalitas sumber daya manusia yang rendah bukan karena kita terjajah oleh bangsa lain. Semua persoalan yang ada berpangkal pada keserakahan segelintir manusia indonesia yang justru memiliki peran yang strategis dalam pengambilan keputusan untuk bangsa ini.
Keputusan-keputusan yang dibuat bukan diniatkan sebagai upaya mengatasi persoalan tetapi dibuat atas untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya, popularitas, kekuasaan, dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa.
Hal yang hakiki dari sebuah perjuangan yaitu keihlasan berbuat jauh panggang dari api. Selama hal ini belum bisa kita hilangkan maka mustahil kita bisa mengulang kebangkitan nasional yang berdampak pada peningkatan kemajuan dan kemakmuran bangsa ini.
Menyitir AA Gym kita dapat memulai perubahan mulai dari diri sendiri, dari hal yang paling mungkin kita lakukan, dan mulai saat ini. Mari kita ulang kebangkitan nasional mulai dari diri sendiri, dari yang bisa kita lakukan dan saat ini pula. Insya Allah.

Kebangkitan Nasional Ditelan Krisis Global?

Christianto Wibisono
ada 20 Maret saya menulis surat kepada Presiden Yudhoyono melaporkan tentang rencana Global Nexus Institute mengundang Kishore Mahbubani untuk berbicara tentang tesis dalam buku The New Asian Hemisphere. Pada 2 April Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengatakan bahwa Presiden di tengah kesibukannya telah membaca dan mengetahui tesis Mahbubani, dan malah menyatakan niat meningkatkan acara itu menjadi Presidential Lecture. The New Asian Hemisphere memakai sub judul The Irresistible Shift of Global Power to the East. Asia akan mengembalikan proporsi total produk domestik bruto (PDB)-nya mengalahkan Barat (Eropa dan AS) seperti sebelum imperialisme dan revolusi industri. Sebagian tesis Mahbubani sudah saya tulis dalam kolom 11 Februari berjudul Reposisi Indonesia pada Restorasi Asia II.
Presiden sepakat bahwa tesis Mahbubani merupakan rangsangan bagi pakar Indonesia untuk berkiprah mengajukan inquiry empiris, sebab Indonesia dan ASEAN seolah tidak berperan signifikan dalam Kebangkitan Asia II versi Mahbubani. Setahun yang lalu kolom ini mengawali wacana tentang posisi Indonesia di masa depan mengacu pada proyeksi The Economist bahwa Indonesia akan masuk 10 besar ekonomi dunia. Yayasan Indonesia Forum pada 23 Maret 2007 meluncurkan Visi Indonesia 2030 bahwa RI akan masuk dalam 5 besar ekonomi dunia mengacu kepada proyeksi Goldman Sachs dalam studi BRIC (Brasil, Rusia, India, China). Presidential Lecture oleh Kishore Mahbubani merupakan peluang bagi pakar Indonesia untuk menjadi "produsen" dan bukan sekedar "konsumen" berbagai teori hasil para teoritisi global.
Krisis BBM adalah bagian dari krisis global yang merupakan force majeur. Jadi, kalau kita tenggelam dalam lumpur diskusi BBM yang dipolitisir secara vulgar, akan membuat kita lumpuh dalam mengikuti perkembangan strategi geopolik yang akan mempengaruhi nasib bangsa ini seabad ke depan. Karena itu, peringatan Seabad Kebangkitan Nasional seperti ditulis Sabam Siagian Sabtu 3 Mei lalu, tidak bisa hanya sekadar nostalgia. Tetapi harus diisi dengan tekad dan wacana segar tentang ke mana bangsa ini mau menuju seabad ke depan. Acara yang diprakarsai Global Nexus Institute ini merupakan upaya menyiapkan elite Indonesia berpikir strategis, dan tidak tenggelam dalam rutinitas, serta kepanikan force majeur tanpa visi.
Debat
Pada hari Kamis, 15 Mei saya memberi ceramah di depan Divisi Analisis Strategis Badan Intelijen Nasional (BIN) bertema Anatomi Krisis Global membahas krisis global yang merupakan fusi dari krisis 3F (food, fuel and financial crises). Krisis pangan diawali dengan kegagalan panen gandum di Australia, dan kenaikan harga komoditas pangan yang dialihkan menjadi biofuel seperti jagung dan tebu. Kenaikan harga minyak sampai dua kali lipat dibanding pagu US$ 50 yang telah berlangsung beberapa tahun, mendorong pengalihan energi berbasis fosil menjadi bioenergi.
Tetapi Renewable Fuel Association (RFA), gabungan industri etanol AS, menolak kecaman itu dengan menyatakan bahwa seandainya tidak ada etanol, maka kenaikan harga minyak sudah akan mencapai tingkat yang lebih tinggi dari yang sekarang. Dalam jumpa pers di National Press Club Washington DC 1 Mei, mantan Menteri Pertanian AS John Block menyatakan bahwa jika tidak ada industri etanol sebagai produk alternatif, maka harga bensin di AS akan mencapai US$ 4.14 per galon. Ketua Corn Growers Association Rick Tolman menyatakan, bahwa keuntungan perusahaan migas mencapai US$ 128 miliar, karena harga minyak melonjak dari US$ 10 tahun 1999 menjadi US$ 120 hanya dalam 9 tahun. Dengan adanya alternatif etanol, maka konsumen AS menghemat US$ 69 miliar per tahun. Center for Agricultural and Rural Development Iowa State University menghitung penurunan harga bensin antara $ 0,29 sampai $ 0,40 karena ada etanol sebagai pesaing.
Di Indonesia debat tentang kenaikan BBM menjadi debat yang tidak rasional, karena lekat dengan kepentingan subjektif, hanya untuk menjatuhkan pesaing politik. Padahal, siapa pun yang menjadi presiden pasti harus menaikkan harga BBM kalau tidak ingin mengalami kondisi ekonomi yang lebih rawan. Dalam surat usulan DPD kepada Presiden ada 9 butir saran untuk menghindari kenaikan BBM. Pertama adalah penjadwalan utang dalam dan luar negeri. Ini suatu yang akan menurunkan rating Indonesia di mata internasional. Unsur default ini malah akan memacu kemerosotan nilai rupiah karena arus modal masuk akan terputus dan pelarian modal akan semakin menggejala.
Argumentasi Kwik Kian Gie tentang opportunity lost tidak pernah menjadi wacana mainstream, tetapi hanya dianggap sempalan teoretis yang tidak realistis. Kwik sempat didemo pada 14 Mei sehari setelah terlibat dialog panas dengan Wapres Jusuf Kalla dalam panel bersama Amien Rais, Habibie, dan Hendropriyono. Massa pembela Laksamana Sukardi mendemo rumah Kwik di Kebayoran karena Kwik mengecam keras privatisasi di zaman Laksamana menjabat Menteri Negara BUMN. Dua mantan menteri ini meski berasal dari PDIP (sebelum keduanya keluar), merupakan "lawan bebuyutan" secara ideologis. Kwik penganut garis intervensionis Keynesian Rotterdam, sementara Laksamana pewaris tulen pelaku bursa Wall Street (mantan bankir Lippo Group).
Bermental Orba
Peluncuran buku Amien Rais dihadiri oleh tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim yang diperkenalkan sebagai konsultan School of Advance International Studies John Hopkins University atas jasa Paul Wolfowitz. Anwar Ibrahim agak mengerem buku Amien Rais dengan menyatakan bahwa nasionalisasi tidak akan menyelesaikan persoalan. Sekarang ini orang berteriak tentang fundamentalisme pasar untuk menyalahkan krisis global dan ingin kembali ke etatisme atau otoriterisme negara sebagai pengendali dan pengarah pasar. Yang lebih tepat ialah kembali ke jalan tengah, dimana otorita publik mengintervensi bila pasar menjadi liar dan suicidal.
Dunia saat ini mengalami dislokasi dan instabilitas pasca-hegemoni Barat, karena Asia telah matang untuk bangkit seperti tesis Mahbubani yang juga diperkuat oleh Amy Chua, Parag Khanna, dan Fareed Zakaria. Pada setiap perubahan bobot kekuatan imperium regional atau global akan terjadi semacam gempa politik yang merubah struktur dan komponen geopolitik. Ini akan memakan waktu, sehingga tercapai keseimbangan baru yang mencerminkan perubahan proporsional dari kekuatan nation states yang mengalami pasang surut. Peringatan Seabad Kebangkitan Nasional nyaris tenggelam oleh hiruk pikuk pro dan kontra kenaikan BBM yang seolah menjadi zero sum game bagi elite politik dan bangsa Indonesia. Jika elite Indonesia masih bermental Orba Soehartois yang ingin menjadi predator terhadap sesamanya tanpa mempedulikan peringkat harkat martabat bangsa ini di dunia internasional, maka buat apa mempunyai visi mau jadi 5 Besar Dunia? Jika elite hanya saling menjatuhkan secara partisan dengan tega dan kejam mengadu domba rakyat, bahkan mengulang insiden berdarah kekerasan model Mei, maka bangsa yang tega menjadi predator untuk rakyatnya sendiri, tidak akan pernah menjadi bangsa besar. Sia-sialah kepeloporan Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Proklamasi menegakkan kemerdekaan. Sebab, setelah merdeka justru terus saling bantai kudeta suksesi dengan pola kekerasan model 1966 dan 1998. Seabad Kebangkitan Nasional harus menjadi tonggak untuk menciptakan suksesi demokratis tertib sabar menanti pemilu dan pilpres. Kalau setiap kali mengganti presiden mesti dengan Malari atau Mei 1998, maka pastilah Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa besar dan bermartabat.
Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional
Sumber :http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/19/Editor/edit02.htm