Hari pertama ujian nasional panitia ujian nasional bersama Kadinas dan Wakil Bupati Kendal mengadakan monitoring pelaksanaan ujian nasional. Mestinya panitia sudah menyiapkan SMA1, SMK1. SMK 2 dan MAN Kendal untuk dikunjungi Wakil Bupati, tetapi ternya bu Markesi (Wakil Bupati Kendal) meminta yang berbeda, beliau meminta untuk mengunjungi Kecamatan Kaliwungu dan Boja.
Pak Hasbi (Kakandedpag Kendal) ternyata tetap meminta Wakil Bupati untuk datang di MAN, dan belaiau setuju sebagai sekolah peryama yang akan dikunjungi. kemudian ke SMK 4 Kendal, SMA kaliwungu dan SMAN Boja.
Kunjungan ke MAN kendal dilakukan hanya beberapa saat, tak ada kejadian istimewa di sana. Setelah berkeliling dan mengamati jalannya UN dari luar kelas perjalanan dil;anjutkan ke SMK 4 Kendal.
Kepala Sekolahnya Laki-laki ya pak ?
Sebelum masuk di SMAN Kaliwungu ketika baru turun dari Mobil Bu Wabup sempat bertanya pada pak saya: Kepala sekolahnya laki-laki ya pak Utomo? Saya agak bingung menjawab karena bu Prayekti kepala SMA 1 kaliwungu sudah di depan beliau. Sepanjang peninjauan keliling sekolah belaiau banyak menyarankan tentang penataan lingkungan bahkan secara khusus meminta kepala sekolah untuk membersihkan lingkungan depan sekolah diluar pagar yang rumputnya kurang tertata dan di bagian ujung sebelah barat digunakan untuk pembuangan sampah. Rupanya pertanyaan itu berkaitan dengan pengelolaan kebersihan sekolah. Mungkin beliau berasumsi kalau kepala sekolahnya laki-laki itu kurang peduli pada kebersihan.
Monitoring di SMA Boja
Sejak memasuki pintu gerbang SMA Boja BU Wabup sudah berkomentar positif tentang kebersihan sekolah. Berkali-kali belaiu memuji pengelolaan lingkungan sekolah yang tertata apik. Memang wajar jkarena di SMA Boja selain rindang, hampir semua sudut sekolah terjaga kebersihannya. Bahkan di setiap sudut ditemukan taman-taman sekolah yang tertata rapi, tempat duduk siswa untuk istirahat dan area sekolah yang sudah difasilitasi dengan hot spot. Benar-benar lingkungan belajar yang menyenangkan. Bahkan belaiau sempat menengok WC dan kamar mandi siswa yang bersih dan tempat parkir yang tertata rapi. Sejauh mata memandang tak ada sampah sedikitpun yang terlihat.
Mengapa tidak disini yang dijadikan SBI?
Sambil meninjau bagian barat sekolah yang dijadikan sebagai sport center karena tempat ini dikhususkan untuk arena olahraga beliau sempat menanyakan kepada Kadinas Dikpora Mengapa tidak SMA BOja yang dijadikan SBI? Beliau berargumentasi bahwa SMA Boja lebih siap dari sisi infra struktur dan penataan lingkungan serta fasilitasnya. Lingkungan sekolah yang sejuk dan bersih, taman sekolah yang tertata, fasilitas ICT yang lengkap, guru yang bersemangat dan menurut beliau dengan penataan yang demikian maka bisa dipastikan kepedulian guru pada murid dan lingkungan pasti baik. Wah rupanya kami pak Kepala Dinas, dan saya agak kesulitan menjawab, tapi untung Bu Mulyani bisa memberikan argumentasi meskipun rupanya belum memuaskan beliau juga.
Akhirnya perjalanan monitoring dikakhiri dengan makan siang bersama dan kamipun kembali ke kantor masing-masing dengan menyisakan PR tentang SBI.
Merupakan koleksi artikel dari berbagai sumber sesuai minat dan tulisan sendiri sebagai sarana belajar dan catatan kegiatan yang dilakukan
Jumat, 25 April 2008
Kamis, 03 April 2008
Aspek Moral Dalam Ujian Nasional
Harus diakui bahwa menghadapi pelaksanaan Ujian Nasional yang persyaratan lulusnya makin meningkat menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak. Siswa jelas khawatir jangan-jangan dia tidak lulus, pasti kena marah orang tua dan malu dihadapan teman. Orang tua khawatir anaknya tidak lulus, artinya sudah kehilangan sekian juta rupiah dan harga diri sebagai orang tua. Guru khawatir dianggap tidak profesional karena siswanya banyak yang tak lulus. Kepala sekolah pun tentu sangat khawatir karena bisa dianggap tidak bisa memimpin sekolahnya. Bahkan kepala Dinas dan Bupati/walikota sampai menteripun khawatir terhadap kelulusan ujian nasional.
Wajarkah ?
Sebenarnya kekhawatiran yang demikian sangatlah wajar, karena hal ini menunjukkan adanya rasa tanggungjawab. Yang menjadi persoalan adalah cara mensikapi kekhawatiran itu. Kekhawatiran yang disikapi secara positif akan melahirkan tindakan-tindakan positif, sebaliknya kekhawatiran yang disikapi negatif juga akan melahirkan tindakan negatif. Secara psikologis siswa yang khawatir berlebihan terhadap hasil ujian nasional malah bisa kontra produktif. Konsentrasi belajar bisa hilang, gugup menghadapi sesuatu dan bisa diprediksi kalau cara mensikapinya demikian kekhawatiran tidak lulus ujian itu malah akan terwujud benar-benar menjadi tidak lulus. Tindakan-tindakan negatifpun bisa terwujud akibat kekhawatiran yang berlebihan. Banyak kasus yang terungkap bahwa anak menyontek, mencari kunci jawaban ilegal, bahkan membayar joki ujian nasional adalah cara-cara nyata menghadapi ujian dengan kacamata yang negatif. Maksudnya baik dengan cara yang tidak baik.
Dampak negatif yang timbul akan menjadi lebih parah jika cara-cara negatif itu dilakukan oleh guru atau pejabat yang bertanggungjawab di bidang pendidikan. Beberapa kasus pada pelaksanaan ujian tahun-tahun lalu ditemukan kecurangan yang dilakukan oleh guru yang ternyta ada sebagian diantaranya dilakukan sepengetahuan bahkan atas perintah resmi kepala sekolah atau kepala dinas bahkan juga pada beberapa daerah oleh penguasa tertinggi daerah. Dengan alasan menjaga gengsi meningkatkan rata-rata nilai atau rata-rata jumlah kelulusan dan ranking daerah cara-cara haram itu dilakukan.
Dampak moral
Kebijakan yang salah dan cara yang salah mensikapi pelaksanaan ujian nasional dengan melonggarkan pengawasan, mengkondisikan anak untuk bekerja sama atau bahkan memberikan kunci jawaban tidak saja mencoreng pelaksanaan ujian itu sendiri. Lebih jauh jika kita kaitkan dengan tujuan pendidikan yang menekankan pada pembentukan moral dan peningkatan kemampuan peserta didik maka perilaku -perilaku kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional itu justru kontradiktif dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Artinya bahwa jika kecurangan itu sengaja dilakukan maka secara ekstrim dapat dikatakan bahwa secara sengaja kita mengarahkan anak didik kita untuk memiliki moralitas yang bertentangan dengan tujuan pendidikan. Jikapun hasil ujian itu rata-rata nilai maupun kelulusan atau peringkatnya bagus ditingkat propinsi atau nasional itu adalah prestasi semu.
Resikonya memang sudah dapat diprediksi, nilai rata-rata mungkin akan turun atau prosentase kelulusan akan menurun apalagi peringkat tentu tidak bisa dipertahankan. Namun demikian apalah artinya peringkat, dan angka-angka yang tinggi jika ternyata itu semua adalah semu bahkan meracuni anak dan melatih anak sejak dini untuk tidak jujur.
Sekarang tantangan kita adalah ;BERANIKAH KITA SEMUA MELIHAT KENYATAAN INI?
Wajarkah ?
Sebenarnya kekhawatiran yang demikian sangatlah wajar, karena hal ini menunjukkan adanya rasa tanggungjawab. Yang menjadi persoalan adalah cara mensikapi kekhawatiran itu. Kekhawatiran yang disikapi secara positif akan melahirkan tindakan-tindakan positif, sebaliknya kekhawatiran yang disikapi negatif juga akan melahirkan tindakan negatif. Secara psikologis siswa yang khawatir berlebihan terhadap hasil ujian nasional malah bisa kontra produktif. Konsentrasi belajar bisa hilang, gugup menghadapi sesuatu dan bisa diprediksi kalau cara mensikapinya demikian kekhawatiran tidak lulus ujian itu malah akan terwujud benar-benar menjadi tidak lulus. Tindakan-tindakan negatifpun bisa terwujud akibat kekhawatiran yang berlebihan. Banyak kasus yang terungkap bahwa anak menyontek, mencari kunci jawaban ilegal, bahkan membayar joki ujian nasional adalah cara-cara nyata menghadapi ujian dengan kacamata yang negatif. Maksudnya baik dengan cara yang tidak baik.
Dampak negatif yang timbul akan menjadi lebih parah jika cara-cara negatif itu dilakukan oleh guru atau pejabat yang bertanggungjawab di bidang pendidikan. Beberapa kasus pada pelaksanaan ujian tahun-tahun lalu ditemukan kecurangan yang dilakukan oleh guru yang ternyta ada sebagian diantaranya dilakukan sepengetahuan bahkan atas perintah resmi kepala sekolah atau kepala dinas bahkan juga pada beberapa daerah oleh penguasa tertinggi daerah. Dengan alasan menjaga gengsi meningkatkan rata-rata nilai atau rata-rata jumlah kelulusan dan ranking daerah cara-cara haram itu dilakukan.
Dampak moral
Kebijakan yang salah dan cara yang salah mensikapi pelaksanaan ujian nasional dengan melonggarkan pengawasan, mengkondisikan anak untuk bekerja sama atau bahkan memberikan kunci jawaban tidak saja mencoreng pelaksanaan ujian itu sendiri. Lebih jauh jika kita kaitkan dengan tujuan pendidikan yang menekankan pada pembentukan moral dan peningkatan kemampuan peserta didik maka perilaku -perilaku kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional itu justru kontradiktif dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Artinya bahwa jika kecurangan itu sengaja dilakukan maka secara ekstrim dapat dikatakan bahwa secara sengaja kita mengarahkan anak didik kita untuk memiliki moralitas yang bertentangan dengan tujuan pendidikan. Jikapun hasil ujian itu rata-rata nilai maupun kelulusan atau peringkatnya bagus ditingkat propinsi atau nasional itu adalah prestasi semu.
Resikonya memang sudah dapat diprediksi, nilai rata-rata mungkin akan turun atau prosentase kelulusan akan menurun apalagi peringkat tentu tidak bisa dipertahankan. Namun demikian apalah artinya peringkat, dan angka-angka yang tinggi jika ternyata itu semua adalah semu bahkan meracuni anak dan melatih anak sejak dini untuk tidak jujur.
Sekarang tantangan kita adalah ;BERANIKAH KITA SEMUA MELIHAT KENYATAAN INI?
Senin, 10 Maret 2008
M. Nugroho: selamat malam pakANOM UTOMO: malam masM. Nugroho: maaf soal tadi pakANOM UTOMO: ndak apa apa ANOM UTOMO: saya harapkan ict di kendal majuM. Nugroho: dokumen2 dinas yang akan dipublikasikan bisa di cantumkan di pustakamayaM. Nugroho: tadi pak yosi juga sudah saya beri adminM. Nugroho: http://118.98.162.132/pustakamayaANOM UTOMO: tahun ini ada bloggrant mgmpANOM UTOMO: ada sekolah mandiriM. Nugroho: http://pustakamaya.ictcenter-kendal.netM. Nugroho: iya pakANOM UTOMO: saya harap mereka punya produkANOM UTOMO: yang bisa dipakai semua sekolahANOM UTOMO: makanyaANOM UTOMO: kalau ketua mgmpANOM UTOMO: diberi kesempatanANOM UTOMO: untuk ngisi dan update materiANOM UTOMO: luar biasaANOM UTOMO: tes online untuk semua mapel pun bisaANOM UTOMO: makanya saya dorongANOM UTOMO: mas hendyANOM UTOMO: untuk share dg yang lainM. Nugroho: iya pakM. Nugroho: itu kesalahan sayaM. Nugroho: saya berkutat dengan ngoprek2 programM. Nugroho: lupa pemanfaatannyaANOM UTOMO: artinya dg share ituANOM UTOMO: kelemahan kita bisa ditutup yang lainM. Nugroho: iya pakM. Nugroho: ini nuwun sewu, lewat pak Ut secara informal sajaANOM UTOMO: coba kalau semua pengurus mgmpM. Nugroho: diinformasikan kepada teman2 untuk mengisi kontenANOM UTOMO: sudah familiar dg pustakamayaM. Nugroho: nanti saya beri fasilitas adminM. Nugroho: kalo saya mungkin ndak dipercayaM. Nugroho: kalo pak Ut yang ngutus kan mungkin lebih bagusANOM UTOMO: jangan hanya sayaANOM UTOMO: kalau saya nggak mempanpunANOM UTOMO: kan masih ada kadinasM. Nugroho: hehee ANOM UTOMO: saya all outM. Nugroho: berarti formal pakANOM UTOMO: yang penting bagaimana MAJUANOM UTOMO: meskipun saya harus tertinggalANOM UTOMO: tahap awal saya akan minta setiap mgmpANOM UTOMO: bikin bahan ajarANOM UTOMO: dan tes untuk tiap KDM. Nugroho: iya pakM. Nugroho: saya juga senang bisa kalo bisa membantuM. Nugroho: o ya pak, besok Rabu pak Kardiyono pendamping propinsi mau ke KendalM. Nugroho: rencana juga ke DinasM. Nugroho: karena ndak ada surat resmi, saya minta buat emailM. Nugroho: sebaiknya bertemu siapa ya pak??ANOM UTOMO: jam berapa?ANOM UTOMO: kalau pagi bisa ketemu sayaANOM UTOMO: semua kabid besuk ada tugas luarANOM UTOMO: setelah jam 8M. Nugroho: Rabu pak
Sabtu, 08 Maret 2008
Mesu Budi Penegak Hukum
HUKUM itu tidak hanya mampu bekerja biasa-biasa atau datar-datar saja, tapi juga secara luar biasa. Itu saya sebut tiwikrama, seperti Prabu Kresna yang apabila ber-tiwikrama lalu berubah menjadi raksasa yang mengerikan. Sebaiknya kita mengajak publik untuk menjadi lebih cerdas dengan mengatakan bahwa kualitas penegakan hukum itu dapat bermacam-macam, mulai dari yang lembek sampai yang keras dan yang luar biasa.Penegakan hukum tidak sama dengan menerapkan undang-undang (UU) seperti mesin begitu saja. Penegakan hukum adalah lebih dari itu. Kualitas dan intensitas penegakan hukum dapat berbeda-beda. Hukum juga dapat ber-tiwikrama dan mengeluarkan kekuatan yang sangat besar.Dalam khazanah spiritual Jawa, kita mengenal kata mesu budi, yaitu pengerahan sekalian potensi kejiwaan yang ada dalam diri kita untuk mencapai suatu tujuan. Tiwikrama oleh hukum juga terjadi karena para penegak hukum dalam menjalankan hukum melakukannya dengan cara mesu budi.Kualitas negara hukum kita menjadi berbeda manakala hukum dijalankan seperti itu. Karena Timur lebih menitikberatkan kepada dimensi spiritual, maka mesu budi itu juga lebih banyak dibicarakan dalam ranah spiritual, seperti melakukan tapa brata atau hidup asketis.Beberapa waktu lalu, di Gereja Stasi Santo Petrus, Semarang, diselenggarakan pertunjukan monolog reflektif menyambut 2008 bernama ”Mati Sajroning Urip” (mati di dalam hidup) (Kompas Jawa Tengah, 2 Januari 2008).Pertunjukan tersebut berisi ajakan untuk mematikan ego yang hanya merugikan diri sendiri dan sesama. Itulah contoh aktivitas mesu budi sebagaimana banyak dipahami dan diterapkan di Timur. Konsep mesu budi dan tiwikrama sebaiknya kita perluas sehingga juga memasuki ranah penegakan hukum, baik kejaksaan, kepolisian, maupun pengadilan.Pada hemat saya, mesu budi itu masih sangat relevan, bahkan juga pda abad ke-21 ini. Abad ke-21 semakin marak dan dipadati oleh teknologi, sains, dan berpikir rasional. Kendati hidup dalam suasana yang demikian, sikap mesu budi itu tetap bernilai tinggi; karena tanpa bersikap demikian, sains dan teknologi hanya akan lebih membawa malapetaka.Dalam dunia hukum, cara berhukum dapat dilakukan menurut bunyi formal teks UU serta posedurnya (black letter law). Itulah cara yang masih dominan dalam hukum di Indonesia dewasa ini. Itu adalah cara menjalankan hukum yang paling mudah dan sederhana.Konon di antara para penegak hukum, cara itu juga dianggap paling aman untuk dijalankan, seraya menunggu datangnya hari pensiun. Oleh karena itu, sangat sedikit jumlah mereka yang mau menjadi vigilante (pejuang) dalam penegakan hukum, seperti dilakukan oleh Hakim Agung Adi Andojo Soetjipto waktu ingin membongkar kolusi di Mahkamah Agung (MA) pada 1993.
Sang Pejuang TerpentalPenegakan hukum model pejuang tersebut memang berisiko tinggi. Itu terjadi pada hakim Adi Andojo yang —demi kecintaannya kepada institut MA— tergerak untuk memperbaiki citra badan pengadilan tertinggi tersebut. Sang pejuang malah terpental; itulah risikonya.Hakim Agung Adi Andojo adalah satu contoh dari penegak hukum yang melakukan mesu budi itu. Hakim-hakim agung lain yang tidak mesu budi, yang tidak berbuat ”macam-macam”, yang mengikuti petunjuk dari buku-buku dengan baik-baik (rule book model), memang selamat dalam meniti karirnya.Tetapi hakim macam manakah, yang lebih berjasa untuk bangsa, apalagi dalam suasana kemerosotan mental seperti sekarang ini? Buat saya, adalah yang melakukan mesu budi itu.Saya sependapat dengan Paul Scholten, salah seorang raksasa pemikir hukum Belanda, bahwa hukum itu menyimpan kekuatan pendobrak (expansiekracht) untuk keluar dari kemandekan. Ekspansiekracht terjadi pada saat Prabu Kresna ber-tiwikrama dan kekuatannya menjadi berlipat ganda. Maka kekuatan pendobrak hukum itu juga hanya akan muncul (manifest) di tangan penegak hukum yang menjalankan tugasnya dengan mesu budi.Memang tidak ada mata kuliah mesu budi dalam kurikulum fakultas hukum perguruan tinggi di Indonesia. Hukum diajarkan secara formal dan datar-datar (linear) saja. Itu merupakan kekurangan besar, terutama pada waktu dari dalam fakultas-fakultas tersebut diharapkan muncul para vigilante hukum yang mampu melawan kekuatan hitam yang ingin menghancurkan Indonesia, seperti korupsi, narkoba, dan perusakan lingkungan.Kita mengenal konsep menjalankan pekerjaan dengan cara beyond the call of duty, yaitu bertindak lebih dari yang diwajibkan. Maka, sejalan dengan pikiran tersebut, mesu budi dalam penegakan hukum adalah menjalankan hukum dengan kualitas beyond the call of rule. Mengapa Hakim Agung Adi Andojo tidak duduk manis saja selama menjabat hakim agung? Jawabannya adalah, karena ia termasuk kategori hakim yang menjalankan pekerjaannya dengan kualitas dan tujuan beyond the call of rule. Adi Andojo gelisah atas rendahnya citra MA di mata masyarakat, sedangkan yang lain-lain duduk manis saja karena berpikir ”tugas saya hanya memeriksa dan mengadili”.Untuk menghadapi keadaan luar biasa dewasa ini, kita lebih membutuhkan mereka yang mesu budi daripada mereka yang memilih menjalankan hukum seperti mesin. Apakah saya sedang bermimpi dan berkhayal? Tidak juga, karena survai Bank Dunia 2005 masih menemukan jaksa-jaksa dan hakim-hakim kecil di daerah-daerah yang menjalankan pekerjaannya dengan cara-cara luar biasa, tanpa ada yang menyuruh.Sayangnya, dalam suasana bangsa yang korup seperti sekarang ini, mereka justru dikucilkan oleh lingkungannya, atau ”dibuang” jauh-jauh. Mari kita berikan tepuk tangan dan dukungan kepada orang-orang kecil yang bekerja secara diam-diam di pelosok itu, sebab sekarang kita sungguh membutuhkan hukum yang ber-tiwikrama.(68)–– Prof Satjipto Rahardjo SH, Guru Besar Fakultas Hukum Undip Semarang. (SM 8/3/08)
Sang Pejuang TerpentalPenegakan hukum model pejuang tersebut memang berisiko tinggi. Itu terjadi pada hakim Adi Andojo yang —demi kecintaannya kepada institut MA— tergerak untuk memperbaiki citra badan pengadilan tertinggi tersebut. Sang pejuang malah terpental; itulah risikonya.Hakim Agung Adi Andojo adalah satu contoh dari penegak hukum yang melakukan mesu budi itu. Hakim-hakim agung lain yang tidak mesu budi, yang tidak berbuat ”macam-macam”, yang mengikuti petunjuk dari buku-buku dengan baik-baik (rule book model), memang selamat dalam meniti karirnya.Tetapi hakim macam manakah, yang lebih berjasa untuk bangsa, apalagi dalam suasana kemerosotan mental seperti sekarang ini? Buat saya, adalah yang melakukan mesu budi itu.Saya sependapat dengan Paul Scholten, salah seorang raksasa pemikir hukum Belanda, bahwa hukum itu menyimpan kekuatan pendobrak (expansiekracht) untuk keluar dari kemandekan. Ekspansiekracht terjadi pada saat Prabu Kresna ber-tiwikrama dan kekuatannya menjadi berlipat ganda. Maka kekuatan pendobrak hukum itu juga hanya akan muncul (manifest) di tangan penegak hukum yang menjalankan tugasnya dengan mesu budi.Memang tidak ada mata kuliah mesu budi dalam kurikulum fakultas hukum perguruan tinggi di Indonesia. Hukum diajarkan secara formal dan datar-datar (linear) saja. Itu merupakan kekurangan besar, terutama pada waktu dari dalam fakultas-fakultas tersebut diharapkan muncul para vigilante hukum yang mampu melawan kekuatan hitam yang ingin menghancurkan Indonesia, seperti korupsi, narkoba, dan perusakan lingkungan.Kita mengenal konsep menjalankan pekerjaan dengan cara beyond the call of duty, yaitu bertindak lebih dari yang diwajibkan. Maka, sejalan dengan pikiran tersebut, mesu budi dalam penegakan hukum adalah menjalankan hukum dengan kualitas beyond the call of rule. Mengapa Hakim Agung Adi Andojo tidak duduk manis saja selama menjabat hakim agung? Jawabannya adalah, karena ia termasuk kategori hakim yang menjalankan pekerjaannya dengan kualitas dan tujuan beyond the call of rule. Adi Andojo gelisah atas rendahnya citra MA di mata masyarakat, sedangkan yang lain-lain duduk manis saja karena berpikir ”tugas saya hanya memeriksa dan mengadili”.Untuk menghadapi keadaan luar biasa dewasa ini, kita lebih membutuhkan mereka yang mesu budi daripada mereka yang memilih menjalankan hukum seperti mesin. Apakah saya sedang bermimpi dan berkhayal? Tidak juga, karena survai Bank Dunia 2005 masih menemukan jaksa-jaksa dan hakim-hakim kecil di daerah-daerah yang menjalankan pekerjaannya dengan cara-cara luar biasa, tanpa ada yang menyuruh.Sayangnya, dalam suasana bangsa yang korup seperti sekarang ini, mereka justru dikucilkan oleh lingkungannya, atau ”dibuang” jauh-jauh. Mari kita berikan tepuk tangan dan dukungan kepada orang-orang kecil yang bekerja secara diam-diam di pelosok itu, sebab sekarang kita sungguh membutuhkan hukum yang ber-tiwikrama.(68)–– Prof Satjipto Rahardjo SH, Guru Besar Fakultas Hukum Undip Semarang. (SM 8/3/08)
Sabtu, 09 Februari 2008
Diskusi dengan Ka BKLN
ANOM UTOMO: Selamat malam pak, mohon informasi program schoolnet th 2008 apa masih seperti th 2007 yang lalu .
gatot hari: sdh nggak ada lagi mas...
gatot hari: daerah harus memakai dananya sendiri utk bersambung dgn internet..
ANOM UTOMO: kami sudah siapkan dana tapi kecil
ANOM UTOMO: dan masih ada daerah yang speedy belum masuk
ANOM UTOMO: insya Allah target kami semua SMA/SMK tersambung
ANOM UTOMO: paling lambat akhir tahun ini
gatot hari: berapa sekolah yg sdh tersambung internet?
ANOM UTOMO: dari 30 SMA dan 22 SMK sudah tinggal 17 sekolah yang belum pak
ANOM UTOMO: kami sudah siapkan dana 100 juta di APBD
ANOM UTOMO: tapi masih dibahas di DPR minggu depan
ANOM UTOMO: yang sudah tersambung belum optimal karena masih dial up
gatot hari: saran dana yg 100 jua harus di sharing dgn sekolah juga sehingga makin banyak yg bisa tersambung...
gatot hari: anda di kab mana?
ANOM UTOMO: Kendal pak
gatot hari: sdh berapa yg tersambung? pada level mana saja..?
ANOM UTOMO: baru tersambung, tapi pemanfaatannya belum optimal
ANOM UTOMO: sudah 35 sekolah dari 52 pakANOM UTOMO: khusus DikmenANOM UTOMO: SMP dan SD lebih
ANOM UTOMO: lewat program yang tahun lalu
ANOM UTOMO: yang clien ict saja 43
ANOM UTOMO: tapi pada nggak aktif
gatot hari: mungkin belum tahu manfaatnya...
gatot hari: memang pelan tapi pasti...akan mendorong guru utk disiapkan dgn it...
gatot hari: trtm mgmp...
ANOM UTOMO: kalau Pustakamaya sudah Ok mungkin akan lebih banyak yang aktif pak
ANOM UTOMO: kami punya millis http://asia.groups.yahoo.com/group/Pendidikan_Menengah/
gatot hari: bagus..terus di kembangkan saja...
gatot hari: sdh nggak ada lagi mas...
gatot hari: daerah harus memakai dananya sendiri utk bersambung dgn internet..
ANOM UTOMO: kami sudah siapkan dana tapi kecil
ANOM UTOMO: dan masih ada daerah yang speedy belum masuk
ANOM UTOMO: insya Allah target kami semua SMA/SMK tersambung
ANOM UTOMO: paling lambat akhir tahun ini
gatot hari: berapa sekolah yg sdh tersambung internet?
ANOM UTOMO: dari 30 SMA dan 22 SMK sudah tinggal 17 sekolah yang belum pak
ANOM UTOMO: kami sudah siapkan dana 100 juta di APBD
ANOM UTOMO: tapi masih dibahas di DPR minggu depan
ANOM UTOMO: yang sudah tersambung belum optimal karena masih dial up
gatot hari: saran dana yg 100 jua harus di sharing dgn sekolah juga sehingga makin banyak yg bisa tersambung...
gatot hari: anda di kab mana?
ANOM UTOMO: Kendal pak
gatot hari: sdh berapa yg tersambung? pada level mana saja..?
ANOM UTOMO: baru tersambung, tapi pemanfaatannya belum optimal
ANOM UTOMO: sudah 35 sekolah dari 52 pakANOM UTOMO: khusus DikmenANOM UTOMO: SMP dan SD lebih
ANOM UTOMO: lewat program yang tahun lalu
ANOM UTOMO: yang clien ict saja 43
ANOM UTOMO: tapi pada nggak aktif
gatot hari: mungkin belum tahu manfaatnya...
gatot hari: memang pelan tapi pasti...akan mendorong guru utk disiapkan dgn it...
gatot hari: trtm mgmp...
ANOM UTOMO: kalau Pustakamaya sudah Ok mungkin akan lebih banyak yang aktif pak
ANOM UTOMO: kami punya millis http://asia.groups.yahoo.com/group/Pendidikan_Menengah/
gatot hari: bagus..terus di kembangkan saja...
Jumat, 01 Februari 2008
Kekerasan Guru Pada Anak
Pagi tadi, dirumahku aku kedatangan tamu. Kebetulan saja hari Sabtu aku nggak ada agenda khusus selain ngecek kesiapan Trayout UN tahap I. Dia sudah saya kenal lama, sehingga secara pribadi saya dekat dengannya. Selain itu kalau dihitung masa tugasnya di jajaran pendidikan beliau termasuk senior.
Entah apa maksud kedatangannya ke rumahku, karena nggak biasanya dia berkunjung. Dia hanya cerita tentang putranya di sekolah.
Anaknya saat ini duduk di kelas II di salah satu SMA di Kab.Kendal. Saat semester I kelas satu nilainya bagus-bagus, hampir-hampir nggak ada nilai 7 nya. Tapi di semester II pada salah satu mata pelajaran nilainya turun drastis, dari 9 menjadi 7. Dia menyadari benar akan prestasi yang barangkali tidak konstan ini. Tetapi sebagai orang tua dalam hatinya bertanya-tanya mengapa hal ini tidak terdeteksi sejak dini oleh guru sehingga sebagai orang tua bisa mengarahkan dan membimbing anaknya belajar lebih keras lagi sehingga nilainya minimal dapat dipertahankan.
Mengapa sebagai orang tua tidak pernah mendapatkan laporan dari guru tentang kondisi anaknya di sekolah? Mengapa sebagai orang tua hanya diberi hasil akhir saja yang ternyata jauh dari harapannya? Dia merasa dengan nilai ini cita-cita anaknya untuk bisa masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK telah pupus.
Ternyata nilai 7 pun bisa memadamkan cita-cita besar anak dan orang tua dan mengkandaskan mimpi besar untuk merajut masa depan yang lebih baik..
Apakah ini termasuk "kekerasan guru pada murid?",...
Entah apa maksud kedatangannya ke rumahku, karena nggak biasanya dia berkunjung. Dia hanya cerita tentang putranya di sekolah.
Anaknya saat ini duduk di kelas II di salah satu SMA di Kab.Kendal. Saat semester I kelas satu nilainya bagus-bagus, hampir-hampir nggak ada nilai 7 nya. Tapi di semester II pada salah satu mata pelajaran nilainya turun drastis, dari 9 menjadi 7. Dia menyadari benar akan prestasi yang barangkali tidak konstan ini. Tetapi sebagai orang tua dalam hatinya bertanya-tanya mengapa hal ini tidak terdeteksi sejak dini oleh guru sehingga sebagai orang tua bisa mengarahkan dan membimbing anaknya belajar lebih keras lagi sehingga nilainya minimal dapat dipertahankan.
Mengapa sebagai orang tua tidak pernah mendapatkan laporan dari guru tentang kondisi anaknya di sekolah? Mengapa sebagai orang tua hanya diberi hasil akhir saja yang ternyata jauh dari harapannya? Dia merasa dengan nilai ini cita-cita anaknya untuk bisa masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK telah pupus.
Ternyata nilai 7 pun bisa memadamkan cita-cita besar anak dan orang tua dan mengkandaskan mimpi besar untuk merajut masa depan yang lebih baik..
Apakah ini termasuk "kekerasan guru pada murid?",...
Minggu, 27 Januari 2008
PakHarto dan Aku (oleh : Sukardi Rinakit)
PAGI itu, 9 Juni 1999. Aku bertanya kepada Pak Harto, ''Seandainya Bapak masih Presiden, apakah saya akan diangkat jadi menteri?'' Pak Harto tersenyum kebapakan, memandang dengan mata berbinar dan menjawab lugas, ''Ya!'' Katanya sambil mengangguk.
Itulah salah satu kenanganku mengiringi kepergian Pak Harto, Minggu siang, 27 Januari 2008, pukul 13.10. Kesan kuat terpancar bahwa tokoh nomor satu Orde Baru itu pada dasarnya adalah sosok yang polos. Mudah percaya pada orang lain. Baru bertemu sekali saja, mungkin merasa cocok sehingga bisa berbicara apa saja, sudah menaruh percaya. Bahkan berani menjamin aku akan diangkat jadi menteri seandainya beliau masih presiden.
Apakah sikap seperti itu adalah karakter alamiah Pak Harto ataukah kepasrahan setelah sepuh dan tidak menjabat lagi? Entahlah. Sebab cerita yang beredar di ranah publik, selama ini, terutama di kalangan orang yang antibeliau adalah sebaliknya. Mereka melihatnya sebagai sosok yang tidak mudah percaya pada seseorang.
Aku cenderung tidak setuju dengan argumen itu. Rasanya lebih tepat jika dikatakan karena pengalaman yang luas dan dalam, Pak Harto bisa meraba karakter lawan bicaranya. Oleh sebab itu, kesannya menjadi mudah percaya pada seseorang.
Tapi kemampuan untuk meraba hati terdalam lawan bicara itu menurun seiring dengan umur yang semakin meninggi. Hal ini, salah satunya, juga disebabkan oleh semakin terbatasnya serapan informasi yang didapat.
Selain itu juga karena tidak adanya partner diskusi karena teman-teman seangkatan yang dipercayainya sudah meninggal. Terbukti ketika tekanan reformasi menguat, Pak Harto ditinggalkan oleh orang-orang yang sebelumnya berkerumun di sekitarnya. Ini menandakan dia sudah tidak jeli lagi meraba hati para pembantunya. Oleh sebab itu, secara pribadi saya hormat pada almarhum SjaĆadilah Mursjid (mantan Menteri Sekretaris Negara), dan Anton Tabah (mantan sekretaris pribadi Pak Harto). Mereka adalah bagian dari sedikit orang yang dengan tulus masih mau menjadi ''teman'' Pak Harto.
Pak Harto lalu bergurau, bahwa saya telat lahir. Karena baru bertemu dia setelah tidak berkuasa. Jika tidak, jabatan menteri sudah di tangan dari dulu. Pertemuan itu pun untuk wawancara demi kepentingan penyusunan disertasi doktoral saya di bidang politik militer. Sebagai salah satu sesepuh TNI, Pak Harto tentu bisa memprediksi masa depan militer.
Tidak Mudah
Ketika aku mengatakan, tentara sudah melempar dadu politiknya sebagai akibat tekanan reformasi dan bertanya mengenai kemungkinan militer masuk barak, Pak Harto justru bertanya, ''Apa agenda reformasi kalian?''. Jujur, mulutku tercekat. Tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Kukatakan apa adanya pada Pak Harto. Agenda reformasi ketika itu adalah menjatuhkan Pak Harto. Titik. Dia menggeleng pelan, lalu berkata, ''Itulah bahayanya jika segala sesuatu tidak dipersiapkan dengan matang.''
Reformasi itu baik, tapi mengatur negara itu tidak mudah, maka segala sesuatu harus dipersiapkan. Jika madu kecampuran racun, ambil madunya. Jika emas kecampuran kotoran, ambilah emasnya. Jadi semuanya tidak dibuang begitu saja.
Selanjutnya dia menjelaskan, hampir mustahil tentara itu masuk barak secara total. Latar sejarah, kondisi geografis dan kemajemukan masyarakat Indonesia secara alamiah menuntut mereka untuk terlibat politik. Artinya, reposisi dan reaktualisasi peran militer tidak harus berarti tentara itu nirpolitik. Hanya kadar keterlibatannya saja yang berbeda.
Sampai kapan pun, tentara bukan hanya akan terlibat dalam urusan perang, tetapi juga nonperang. Kehadiran di medan nonperang ini, meskipun murni kegiatan sosial-kemanusiaan, dapat berubah menjadi aktivistas politik jika politisi sipil menarik-narik mereka masuk ke ranah politik praktis. Terlebih-lebih jika politisi itu ambisi pribadinya lebih besar dari cita-citanya.
Bagi para politisi seperti itu, struktur organisasi militer yang membelah dari pusat sampai ke daerah, yang fungsi utamanya adalah untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara, oleh mereka dipandang sebagai sebuah sumber daya politik. Tidak mengherankan jika dalam perjalanan sejarah bangsa, banyak politisi sipil mencoba bersandar pada bahu militer agar bisa mengkapitalisasi sumber daya politik tersebut.
Penjelasan Pak Harto itu sejalan dengan pandangan para analis militer pada umumnya. Bagi mereka, memang politisi sipil yang seringkali menjadi pemicu masuknya kembali militer ke ranah politik.
Sampai di sini aku sadar, tulisan ini menjadi terasa kering jika mengupas dialog-dialog yag serius dengan Pak Harto. Sisi kemanusiaan yang selektif, tampaknya justru lebih menarik untuk diceritakan.
Seperti sudah diketahui publik, Pak Harto itu adalah orang cerdas. Daya ingatnya luar biasa. Masih hafal produksi beras tiap tahun, pertumbuhan ekonomi, tingkat keberhasilan keluarga berencana, dan lain-lain. Ketika aku bertanya siapa mantan menteri yang paham dengan cara pikir Pak Harto dan baik untuk aku ajak ''diskusi'' mengenai masalah-masalah ekonomi, Pak Harto menjawab, ''Pak Marlin'' (maksudnya JB Sumarlin).
Jawaban itu membuat aku sedikit terkejut. Karena seperti teman-teman lain, selama ini aku dibelenggu oleh pemahaman tunggal bahwa dewa pembangunan ekonomi kita adalah Widjojo Nitisastro. Setidaknya akhirnya aku tahu, peran semua menteri, termasuk JB Sumarlin, ternyata ikut menentukan arah Republik. Tidak ada pemain tunggal di sini.
Aku lalu bercerita pada Pak Harto tentang cita-citaku sewaktu kecil, yaitu ingin setiap hari bisa makan telur satu biji. Aku enam bersaudara, karena keterbatasan ekonomi, Emak hanya bisa menggoreng telur sebiji seminggu. Jadi digoreng tipis dan dipotong-potong enam. Bapak dan Emak mengalah tidak mendapatkan potongan telur itu.
Pak Harto tertawa renyah mendengar ceritaku itu. Tapi aku menangkap matanya memancarkan keprihatinan mendengar kisah tersebut. Tiba-tiba perasaan bersalah bergelayut karena menceritakan hal bodoh itu. Agar membuatnya segera gembira, aku cepat menyambar dengan kalimat, ''Tapi saya sekarang sudah bosan makan telur dan ayam.''
Beliau tersenyum. Lalu berkata, ''Iya. Sekarang kamu sudah punya handphone, sekolah di luar negeri, calon doktor. Jangan-jangan malah sudah bosan makan steak!,'' katanya sambil tertawa.
Dengan muka serius Pak Harto menceritakan bahwa untuk bisa membuat semua orang bisa makan telur, bosan makan ayam, mengenyam pendidikan dan kesehatan, dibutuhkan perjuangan yang berat dalam tempo panjang. Tidak mudah mencapai semua itu. Kecurigaan, kritik, caci maki, menjadi makanan tiap hari. Ini belum kalau tekanan internasional ikut diperhitungkan. Lembaga-lembaga internasional itu seringkali ingin mendikte kebijakan pembangunan nasional.
Pak Harto lalu menyampaikan bahwa dalam hidup itu, perbuatan baik dan buruk akan mengikuti sampai ajal. Jika niatnya baik, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan. Mungkin ada akibat kurang baik di sini karena keputusan itu. Tetapi mayoritas rakyat mendapatkan manfaat dari kebijakan tersebut.
Tentu masih banyak persoalan yang kami diskusikan termasuk keprihatinan pada jalannya reformasi yang tanpa agenda. Tapi dari sedikit hal yang sudah aku tulis itu, seandainya saat ini aku Presiden, aku akan segera mengambil keputusan mengenai kasus hukum Pak Harto.
Aku hanya akan mendengar suara mayoritas rakyat untuk mengambil langkah politik itu. Jika mayoritas rakyat menghendaki Pak Harto dimaafkan, maka atas nama bangsa dan negara, sikap itu yang akan saya ambil.
Aku tahu, apapun keputusan mengenai Pak Harto, di dalamnya menganga kontroversi. Ada yang suka, ada yang tidak! Tapi seorang pemimpin, ibarat seorang dirijen, harus berani membelakangi orang-orang yang ingin dipuaskan. Tanpa itu, konser tidak akan berjalan sempurna. Dengan istilah lain, persoalan jangan digantung seperti sekarang.
Minggu kemarin, 27 Januari 2008, aku menenggelamkan diri untuk merenungi kata-kata Pak Harto bahwa musuh kita itu sejatinya bukan Pak Harto atau yang lain. Musuh kita itu sebenarnya adalah Amerika Serikat, China, India dan lain-lain.
Kita akan ''bertarung'' dengan mereka di masa depan. Kalau kita tidak membangun sumber daya manusia yang tangguh, kita akan digulung mereka. Anda mau mengalami itu? Saya tidak!(77)
- Penulis adalah Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate
Itulah salah satu kenanganku mengiringi kepergian Pak Harto, Minggu siang, 27 Januari 2008, pukul 13.10. Kesan kuat terpancar bahwa tokoh nomor satu Orde Baru itu pada dasarnya adalah sosok yang polos. Mudah percaya pada orang lain. Baru bertemu sekali saja, mungkin merasa cocok sehingga bisa berbicara apa saja, sudah menaruh percaya. Bahkan berani menjamin aku akan diangkat jadi menteri seandainya beliau masih presiden.
Apakah sikap seperti itu adalah karakter alamiah Pak Harto ataukah kepasrahan setelah sepuh dan tidak menjabat lagi? Entahlah. Sebab cerita yang beredar di ranah publik, selama ini, terutama di kalangan orang yang antibeliau adalah sebaliknya. Mereka melihatnya sebagai sosok yang tidak mudah percaya pada seseorang.
Aku cenderung tidak setuju dengan argumen itu. Rasanya lebih tepat jika dikatakan karena pengalaman yang luas dan dalam, Pak Harto bisa meraba karakter lawan bicaranya. Oleh sebab itu, kesannya menjadi mudah percaya pada seseorang.
Tapi kemampuan untuk meraba hati terdalam lawan bicara itu menurun seiring dengan umur yang semakin meninggi. Hal ini, salah satunya, juga disebabkan oleh semakin terbatasnya serapan informasi yang didapat.
Selain itu juga karena tidak adanya partner diskusi karena teman-teman seangkatan yang dipercayainya sudah meninggal. Terbukti ketika tekanan reformasi menguat, Pak Harto ditinggalkan oleh orang-orang yang sebelumnya berkerumun di sekitarnya. Ini menandakan dia sudah tidak jeli lagi meraba hati para pembantunya. Oleh sebab itu, secara pribadi saya hormat pada almarhum SjaĆadilah Mursjid (mantan Menteri Sekretaris Negara), dan Anton Tabah (mantan sekretaris pribadi Pak Harto). Mereka adalah bagian dari sedikit orang yang dengan tulus masih mau menjadi ''teman'' Pak Harto.
Pak Harto lalu bergurau, bahwa saya telat lahir. Karena baru bertemu dia setelah tidak berkuasa. Jika tidak, jabatan menteri sudah di tangan dari dulu. Pertemuan itu pun untuk wawancara demi kepentingan penyusunan disertasi doktoral saya di bidang politik militer. Sebagai salah satu sesepuh TNI, Pak Harto tentu bisa memprediksi masa depan militer.
Tidak Mudah
Ketika aku mengatakan, tentara sudah melempar dadu politiknya sebagai akibat tekanan reformasi dan bertanya mengenai kemungkinan militer masuk barak, Pak Harto justru bertanya, ''Apa agenda reformasi kalian?''. Jujur, mulutku tercekat. Tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Kukatakan apa adanya pada Pak Harto. Agenda reformasi ketika itu adalah menjatuhkan Pak Harto. Titik. Dia menggeleng pelan, lalu berkata, ''Itulah bahayanya jika segala sesuatu tidak dipersiapkan dengan matang.''
Reformasi itu baik, tapi mengatur negara itu tidak mudah, maka segala sesuatu harus dipersiapkan. Jika madu kecampuran racun, ambil madunya. Jika emas kecampuran kotoran, ambilah emasnya. Jadi semuanya tidak dibuang begitu saja.
Selanjutnya dia menjelaskan, hampir mustahil tentara itu masuk barak secara total. Latar sejarah, kondisi geografis dan kemajemukan masyarakat Indonesia secara alamiah menuntut mereka untuk terlibat politik. Artinya, reposisi dan reaktualisasi peran militer tidak harus berarti tentara itu nirpolitik. Hanya kadar keterlibatannya saja yang berbeda.
Sampai kapan pun, tentara bukan hanya akan terlibat dalam urusan perang, tetapi juga nonperang. Kehadiran di medan nonperang ini, meskipun murni kegiatan sosial-kemanusiaan, dapat berubah menjadi aktivistas politik jika politisi sipil menarik-narik mereka masuk ke ranah politik praktis. Terlebih-lebih jika politisi itu ambisi pribadinya lebih besar dari cita-citanya.
Bagi para politisi seperti itu, struktur organisasi militer yang membelah dari pusat sampai ke daerah, yang fungsi utamanya adalah untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara, oleh mereka dipandang sebagai sebuah sumber daya politik. Tidak mengherankan jika dalam perjalanan sejarah bangsa, banyak politisi sipil mencoba bersandar pada bahu militer agar bisa mengkapitalisasi sumber daya politik tersebut.
Penjelasan Pak Harto itu sejalan dengan pandangan para analis militer pada umumnya. Bagi mereka, memang politisi sipil yang seringkali menjadi pemicu masuknya kembali militer ke ranah politik.
Sampai di sini aku sadar, tulisan ini menjadi terasa kering jika mengupas dialog-dialog yag serius dengan Pak Harto. Sisi kemanusiaan yang selektif, tampaknya justru lebih menarik untuk diceritakan.
Seperti sudah diketahui publik, Pak Harto itu adalah orang cerdas. Daya ingatnya luar biasa. Masih hafal produksi beras tiap tahun, pertumbuhan ekonomi, tingkat keberhasilan keluarga berencana, dan lain-lain. Ketika aku bertanya siapa mantan menteri yang paham dengan cara pikir Pak Harto dan baik untuk aku ajak ''diskusi'' mengenai masalah-masalah ekonomi, Pak Harto menjawab, ''Pak Marlin'' (maksudnya JB Sumarlin).
Jawaban itu membuat aku sedikit terkejut. Karena seperti teman-teman lain, selama ini aku dibelenggu oleh pemahaman tunggal bahwa dewa pembangunan ekonomi kita adalah Widjojo Nitisastro. Setidaknya akhirnya aku tahu, peran semua menteri, termasuk JB Sumarlin, ternyata ikut menentukan arah Republik. Tidak ada pemain tunggal di sini.
Aku lalu bercerita pada Pak Harto tentang cita-citaku sewaktu kecil, yaitu ingin setiap hari bisa makan telur satu biji. Aku enam bersaudara, karena keterbatasan ekonomi, Emak hanya bisa menggoreng telur sebiji seminggu. Jadi digoreng tipis dan dipotong-potong enam. Bapak dan Emak mengalah tidak mendapatkan potongan telur itu.
Pak Harto tertawa renyah mendengar ceritaku itu. Tapi aku menangkap matanya memancarkan keprihatinan mendengar kisah tersebut. Tiba-tiba perasaan bersalah bergelayut karena menceritakan hal bodoh itu. Agar membuatnya segera gembira, aku cepat menyambar dengan kalimat, ''Tapi saya sekarang sudah bosan makan telur dan ayam.''
Beliau tersenyum. Lalu berkata, ''Iya. Sekarang kamu sudah punya handphone, sekolah di luar negeri, calon doktor. Jangan-jangan malah sudah bosan makan steak!,'' katanya sambil tertawa.
Dengan muka serius Pak Harto menceritakan bahwa untuk bisa membuat semua orang bisa makan telur, bosan makan ayam, mengenyam pendidikan dan kesehatan, dibutuhkan perjuangan yang berat dalam tempo panjang. Tidak mudah mencapai semua itu. Kecurigaan, kritik, caci maki, menjadi makanan tiap hari. Ini belum kalau tekanan internasional ikut diperhitungkan. Lembaga-lembaga internasional itu seringkali ingin mendikte kebijakan pembangunan nasional.
Pak Harto lalu menyampaikan bahwa dalam hidup itu, perbuatan baik dan buruk akan mengikuti sampai ajal. Jika niatnya baik, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan. Mungkin ada akibat kurang baik di sini karena keputusan itu. Tetapi mayoritas rakyat mendapatkan manfaat dari kebijakan tersebut.
Tentu masih banyak persoalan yang kami diskusikan termasuk keprihatinan pada jalannya reformasi yang tanpa agenda. Tapi dari sedikit hal yang sudah aku tulis itu, seandainya saat ini aku Presiden, aku akan segera mengambil keputusan mengenai kasus hukum Pak Harto.
Aku hanya akan mendengar suara mayoritas rakyat untuk mengambil langkah politik itu. Jika mayoritas rakyat menghendaki Pak Harto dimaafkan, maka atas nama bangsa dan negara, sikap itu yang akan saya ambil.
Aku tahu, apapun keputusan mengenai Pak Harto, di dalamnya menganga kontroversi. Ada yang suka, ada yang tidak! Tapi seorang pemimpin, ibarat seorang dirijen, harus berani membelakangi orang-orang yang ingin dipuaskan. Tanpa itu, konser tidak akan berjalan sempurna. Dengan istilah lain, persoalan jangan digantung seperti sekarang.
Minggu kemarin, 27 Januari 2008, aku menenggelamkan diri untuk merenungi kata-kata Pak Harto bahwa musuh kita itu sejatinya bukan Pak Harto atau yang lain. Musuh kita itu sebenarnya adalah Amerika Serikat, China, India dan lain-lain.
Kita akan ''bertarung'' dengan mereka di masa depan. Kalau kita tidak membangun sumber daya manusia yang tangguh, kita akan digulung mereka. Anda mau mengalami itu? Saya tidak!(77)
- Penulis adalah Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate
Langganan:
Postingan (Atom)