Merupakan koleksi artikel dari berbagai sumber sesuai minat dan tulisan sendiri sebagai sarana belajar dan catatan kegiatan yang dilakukan
Senin, 12 Mei 2008
UASBN BAHASA INDONESIA ANEH
Oleh Hanif Nurcholis
Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2007 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional, pada Mei 2008 semua SD/MI di Indonesia akan menyelenggarakan UASBN. Salah satu mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Pada lampiran permendiknas tersebut ditetapkan cakupan standar kompetensi lulusan.
Dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tersebut termuat hal-hal yang akan diujikan, mencakup indikator-indikatornya, materinya, dan bentuk soalnya.
Untuk Bahasa Indonesia, SKL yang akan diujikan hanya aspek membaca dan menulis, sedangkan aspek mendengarkan dan berbicara tidak diujikan. Untuk mengetahui apakah siswa menguasai dua SKL tersebut atau tidak, ia akan diukur dengan alat uji berupa soal obyektif pilihan ganda sebanyak 50 butir dalam waktu 120 menit.
Melihat cakupan SKL yang akan diujikan dan instrumen ujinya, khususnya untuk SKL Menulis, sudah sepatutnya para guru, pakar pendidikan, pemerhati pendidikan, organisasi profesi pendidikan, dan masyarakat luas menolak hasil ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) 2008 Bahasa Indonesia karena dua hal. Pertama, lingkup SKL yang diujikan tidak sesuai dengan SKL nasional. Sesuai dengan Permendiknas No 23/2006 tentang SKL, SKL mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas empat komponen: Mendengarkan, Berbicara, Membaca, dan Menulis. Dengan demikian, dua SKL, Mendengarkan dan Berbicara, tidak diujikan, padahal siswa dilatih dan dibimbing oleh gurunya dalam proses pembelajaran untuk menguasai dua SKL ini.
Kedua, dilihat dari validitas isi, menguji kemampuan menulis dengan instrumen berupa soal pilihan ganda jelas sangat tidak valid.
Dengan hanya menguji SKL Membaca dan Menulis, berarti hasil UASBN yang menjadi penentu kelulusan tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya menguji 50 persen SKL nasional. Akan tetapi, sebenarnya hanya 25 persen sebab instrumen penilaian untuk SKL Menulis juga tidak valid.
Ketidaksahihan alat uji SKL Menulis tersebut terkait dengan keluarnya tiga kurikulum terakhir: Kurikulum 1994, KBK 2004, serta Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 2006. Ketiga kurikulum tersebut sudah tidak mengamanatkan pengajaran kebahasaan/linguistik dan ejaan, tetapi pembelajaran keterampilan berbahasa
sekabjutnya :
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/12/00150114/uasbn.bahasa.indonesia.aneh
Sabtu, 10 Mei 2008
"Perang Gerilya" Si Umar Bakri
Budi Suwarna dan Ilham Khoiri
Kekisruhan dalam ujian nasional belakangan mungkin mencerminkan sikap bangsa yang kerap hipokrit. Di satu sisi, pemerintah ngotot mematok standar kelulusan sebagai cermin peningkatan mutu pendidikan nasional. Saat bersamaan, standar itu dicapai dengan berbagai trik, tipu muslihat, atau lewat ”perang gerilya” yang melibatkan para guru.
Maya (nama samaran) tertawa sinis setiap kali mendengar pejabat mengklaim ujian nasional (UN) berlangsung sukses dan angka kelulusan tinggi. Soalnya, dia tahu benar, betapa ”sukses” itu diraih bukan melalui proses belajar-mengajar di sekolah, melainkan lewat ”perang gerilya” yang dilakoni para guru.
Guru sebuah SMA swasta di Jakarta itu mengungkapkan, hampir semua sekolah di rayonnya menyiapkan berbagai strategi ”perang gerilya” untuk memberikan contekan kepada siswa. Tahun ini Maya mengaku masuk dalam ”pasukan gerilya” bersama beberapa guru lain.
Lanjutan :
http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01412372/perang.gerilya.si.umar.bakri
Selasa, 06 Mei 2008
Ujian ONLINE
Yang terlihat di muka adalah dahi yang berkerut pertanda para siswa sedang berpikir keras. Wajar karena memang siswa kelas III Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Majene, Sulawesi Barat, sedang menghadapi ujian akhir sekolah. Namun, berbeda dari sekolah kebanyakan, selama seminggu, sejak Senin (5/5) pagi, siswa kelas III SMK 2 Majene kelompok Bisnis dan Manajemen menjalani ujian akhir sekolah berbasis online.
Di hadapan siswa, tidak ada lembaran kertas yang mesti diisi, atau pensil dan pena untuk mengisi jawaban. Dengan sistem ini, setiap siswa mendapat meja lengkap dengan satu set komputer. Dengan memasukkan password nomor ujian mereka, setiap siswa akan mendapatkan soal pilihan ganda (multiple choice). Satu siswa dengan siswa lain mendapatkan soal yang berbeda urutannya. Lanjutan di:http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/07/01152527/cukup.klik.tanpa.pensil.tanpa.kertas.ujian...
Senin, 05 Mei 2008
SUDAH SEDEMIKIAN BURUKKAH?
Yang mengganjal dihati saya ketika saya baca polling yang sengaja diposting di Jipkendal untuk menilai kejujuran pelaksanaan ujian nasional ternyata hasilnya mengejutkan. 78 % responden mengatakan bahwa pelaksanaan ujian nasional kali ini tidak jujur dan hanya 22 % saja yang mengatakan bahwa ujian nasional ini jujur. Memang kalau dilihat dari jumlah datanya belum representatif tetapi bagi saya ini cukup merisaukan. Sudah demikian burukkah kita ini sehingga kita (para praktisi pendidikan) ternyata tidak bisa memegang amanah lalu mungkinkah kita menghasilkan generasi yang jujur??? Semoga Allah mengampuni!!
Jumat, 25 April 2008
Catatan Monitoring Bersama Wakil Bupati
Pak Hasbi (Kakandedpag Kendal) ternyata tetap meminta Wakil Bupati untuk datang di MAN, dan belaiau setuju sebagai sekolah peryama yang akan dikunjungi. kemudian ke SMK 4 Kendal, SMA kaliwungu dan SMAN Boja.
Kunjungan ke MAN kendal dilakukan hanya beberapa saat, tak ada kejadian istimewa di sana. Setelah berkeliling dan mengamati jalannya UN dari luar kelas perjalanan dil;anjutkan ke SMK 4 Kendal.
Kepala Sekolahnya Laki-laki ya pak ?
Sebelum masuk di SMAN Kaliwungu ketika baru turun dari Mobil Bu Wabup sempat bertanya pada pak saya: Kepala sekolahnya laki-laki ya pak Utomo? Saya agak bingung menjawab karena bu Prayekti kepala SMA 1 kaliwungu sudah di depan beliau. Sepanjang peninjauan keliling sekolah belaiau banyak menyarankan tentang penataan lingkungan bahkan secara khusus meminta kepala sekolah untuk membersihkan lingkungan depan sekolah diluar pagar yang rumputnya kurang tertata dan di bagian ujung sebelah barat digunakan untuk pembuangan sampah. Rupanya pertanyaan itu berkaitan dengan pengelolaan kebersihan sekolah. Mungkin beliau berasumsi kalau kepala sekolahnya laki-laki itu kurang peduli pada kebersihan.
Monitoring di SMA Boja
Sejak memasuki pintu gerbang SMA Boja BU Wabup sudah berkomentar positif tentang kebersihan sekolah. Berkali-kali belaiu memuji pengelolaan lingkungan sekolah yang tertata apik. Memang wajar jkarena di SMA Boja selain rindang, hampir semua sudut sekolah terjaga kebersihannya. Bahkan di setiap sudut ditemukan taman-taman sekolah yang tertata rapi, tempat duduk siswa untuk istirahat dan area sekolah yang sudah difasilitasi dengan hot spot. Benar-benar lingkungan belajar yang menyenangkan. Bahkan belaiau sempat menengok WC dan kamar mandi siswa yang bersih dan tempat parkir yang tertata rapi. Sejauh mata memandang tak ada sampah sedikitpun yang terlihat.
Mengapa tidak disini yang dijadikan SBI?
Sambil meninjau bagian barat sekolah yang dijadikan sebagai sport center karena tempat ini dikhususkan untuk arena olahraga beliau sempat menanyakan kepada Kadinas Dikpora Mengapa tidak SMA BOja yang dijadikan SBI? Beliau berargumentasi bahwa SMA Boja lebih siap dari sisi infra struktur dan penataan lingkungan serta fasilitasnya. Lingkungan sekolah yang sejuk dan bersih, taman sekolah yang tertata, fasilitas ICT yang lengkap, guru yang bersemangat dan menurut beliau dengan penataan yang demikian maka bisa dipastikan kepedulian guru pada murid dan lingkungan pasti baik. Wah rupanya kami pak Kepala Dinas, dan saya agak kesulitan menjawab, tapi untung Bu Mulyani bisa memberikan argumentasi meskipun rupanya belum memuaskan beliau juga.
Akhirnya perjalanan monitoring dikakhiri dengan makan siang bersama dan kamipun kembali ke kantor masing-masing dengan menyisakan PR tentang SBI.
Kamis, 03 April 2008
Aspek Moral Dalam Ujian Nasional
Wajarkah ?
Sebenarnya kekhawatiran yang demikian sangatlah wajar, karena hal ini menunjukkan adanya rasa tanggungjawab. Yang menjadi persoalan adalah cara mensikapi kekhawatiran itu. Kekhawatiran yang disikapi secara positif akan melahirkan tindakan-tindakan positif, sebaliknya kekhawatiran yang disikapi negatif juga akan melahirkan tindakan negatif. Secara psikologis siswa yang khawatir berlebihan terhadap hasil ujian nasional malah bisa kontra produktif. Konsentrasi belajar bisa hilang, gugup menghadapi sesuatu dan bisa diprediksi kalau cara mensikapinya demikian kekhawatiran tidak lulus ujian itu malah akan terwujud benar-benar menjadi tidak lulus. Tindakan-tindakan negatifpun bisa terwujud akibat kekhawatiran yang berlebihan. Banyak kasus yang terungkap bahwa anak menyontek, mencari kunci jawaban ilegal, bahkan membayar joki ujian nasional adalah cara-cara nyata menghadapi ujian dengan kacamata yang negatif. Maksudnya baik dengan cara yang tidak baik.
Dampak negatif yang timbul akan menjadi lebih parah jika cara-cara negatif itu dilakukan oleh guru atau pejabat yang bertanggungjawab di bidang pendidikan. Beberapa kasus pada pelaksanaan ujian tahun-tahun lalu ditemukan kecurangan yang dilakukan oleh guru yang ternyta ada sebagian diantaranya dilakukan sepengetahuan bahkan atas perintah resmi kepala sekolah atau kepala dinas bahkan juga pada beberapa daerah oleh penguasa tertinggi daerah. Dengan alasan menjaga gengsi meningkatkan rata-rata nilai atau rata-rata jumlah kelulusan dan ranking daerah cara-cara haram itu dilakukan.
Dampak moral
Kebijakan yang salah dan cara yang salah mensikapi pelaksanaan ujian nasional dengan melonggarkan pengawasan, mengkondisikan anak untuk bekerja sama atau bahkan memberikan kunci jawaban tidak saja mencoreng pelaksanaan ujian itu sendiri. Lebih jauh jika kita kaitkan dengan tujuan pendidikan yang menekankan pada pembentukan moral dan peningkatan kemampuan peserta didik maka perilaku -perilaku kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional itu justru kontradiktif dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Artinya bahwa jika kecurangan itu sengaja dilakukan maka secara ekstrim dapat dikatakan bahwa secara sengaja kita mengarahkan anak didik kita untuk memiliki moralitas yang bertentangan dengan tujuan pendidikan. Jikapun hasil ujian itu rata-rata nilai maupun kelulusan atau peringkatnya bagus ditingkat propinsi atau nasional itu adalah prestasi semu.
Resikonya memang sudah dapat diprediksi, nilai rata-rata mungkin akan turun atau prosentase kelulusan akan menurun apalagi peringkat tentu tidak bisa dipertahankan. Namun demikian apalah artinya peringkat, dan angka-angka yang tinggi jika ternyata itu semua adalah semu bahkan meracuni anak dan melatih anak sejak dini untuk tidak jujur.
Sekarang tantangan kita adalah ;BERANIKAH KITA SEMUA MELIHAT KENYATAAN INI?